Oleh: yellowcity | Mei 1, 2012

Makanan dan Minuman Khas Kuningan

1. Hucap

Hucap adalah makanan yang terbuat dari campuran ketupat dan tahu goreng kemudian disiram dengan sambal kacang dan ditaburi oleh bawang goreng ditambah kecap manis. Makanan ini memang cukup simpel, semua orang bisa membuatnya sendiri dirumah.

2. Rujak Kangkung

Rujak Kangkung

Rujak Kangkung adalah makanan yang terdiri dir kangkung, toge, ketupat yang dikasih sambal pedas.

3. Sop Dengkil

4. Es Cincau/Cuing

Oleh: yellowcity | April 19, 2012

Batik Paseban Cigugur

Menggali nilai budaya tradisional merupakan komitmen yang ditumbuhkembangkan di tataran masyarakat Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Hal inilah yang membuat masyarakat Cigugur tetap eksis dalam budaya lokalnya ditengah arus budaya lain yang hadir dalam era global.

Hadirnya Batik Paseban Cigugur merupakan satu fenomena menarik untuk dikaji. Batik Paseban Cigugur telah dirancang dalam enam tahun terakhir ini di sebuah pusat pengembangan budaya Cagar Budaya Nasional Gedung Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur. Konsep Batik Paseban Cigugur diambil dari sebagian relief dan seni ukir khas yang terdapat di Paseban Tri Panca Tunggal yang juga merupakan seni relief dan ukir klasik yang sarat dengan nilai filosofi.

Mengingat Gedung Paseban sendiri merupakan monument sejarah yang telah berdiri sejak tahun 1840, didirikan oleh Pangeran Madrais Sadewa Alibassa Kusumah Wijaya Ningrat seorang putra mahkota Pangeran Gebang yang mengungsi ke desa Cigugur dikarenakan  dihancurkannya Kesultanan  Gebang oleh Belanda yang dianggap sebagai pemberontak dalam misi-misi penjajah, karena mereka memegang teguh nilai-nilai nasionalisme, kemanusiaan dan budaya tradisi bangsa.

Lahirnya Batik Paseban Cigugur di prakarsai oleh Pangeran Djatikusumah sebagai cucu atau keturunan ke III dari Pangeran Madrais. Beliau memberikan konsep batik Paseban Cigugur kepada seniman-seniman yang ada di sekitar Paseban. Selama enam tahun  terkumpul lebih dari 200 motif, maka  sejak bulan Juni 2006 dimulai pelatihan-pelatihan membatik pada masyarakat sekitar. Pada tanggal 15 Oktober 2006 Batik Paseban Cigugur diresmikan lahir dan  menyemarakan seni adiluhung batik tulis bangsa ini.

Hal ini  bertujuan pula untuk memperkenalkan lebih jauh kepada masyarakat mengenai nilai-nilai filosofi dalam penerapan yang berbeda yang dapat dilihat dalam seni batik tulis yang dapat memberikan  arti baru yang lebih bermakna dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat dan bangsa.

Motif Batik Paseban

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

sumber:  kuningannews.com

 

Oleh: yellowcity | Maret 23, 2012

Oleh-oleh khas Kuningan

Pulang dari Kuningan pasti bawa seabrek oleh-oleh dari mulai peuyeum, jeniper, opak bakar, keripik pisang, raginang dsb. Makanya kalo pulang sudah pasti bawa tas kosong tambahan, biar nanti baliknya jadi khusus buat tas oleh-oleh.

Sebenernya beberapa makanan khas Kuningan mungkin akan kita temui juga didaerah lain. Bahkan lazim disebut sebagai jajanan pasar. Mungkin saja jenisnya sama tapi rasanya atau namanya berbeda. Tapi ada juga yang  benar-benar asli khas Kuningan. Lalu apa saja sih makanan camilan/ kudapan oleh-oleh khas Kuningan itu. Ayo kita list satu persatu:

1. Peuyeum Ketan

Peuyeum Ketan

Dari namanya pasti sudah pada tahu kalau peuyeum atau tape ini terbuat dari beras ketan, biasanya ketan yang digunakan adalah ketan putih kadang ada juga yang menggunakan ketan hitam. Beras ketan yang sudah dikukus dan dikasih aroma dari beberapa daun khusus kemudian difermentasi menggunakan ragi dan dibungkus dengan daun jambu air. Butuh 3-4 hari sampai peuyeum matang dan siap dikonsumsi. Selain rasanya yang khas, dan aromanya yang unik, peuyeum ketan Kuningan biasanya disimpan dalam kemasan ember sedang hitam berisi 100 buah peuyeum, namun demikian sekarang ada juga dalam kemasan kardus kecil ataupun kemasan palstik. Yang terkenal adalah peuyeum ketan Cibeureum dengan merk Pamella.

2. Opak Bakar Spesial

Opak Bakar Spesial

Opak Bakar Spesial

Opak bakar ini terbuat dari komposisi beras ketan, kelapa, garam dan air yang dibentuk dan dipotong-potong tipis seperti keripik  lalu dibakar. Opak ini berbeda dari opak biasanya yang berbentuk bulat dan agak tebal. Opak Bakar Spesial ini berbetuk persegi panjang, lebih tipis dan renyah. Biasanya dibungkus dalam kemasan plastik terdiri dari sekitar 50 keripik dan kemasan luarnya dalam bentuk kardus kecil.  Rasanya yang asin dan gurih sangat cocok untuk cemilan ditemani dengan segelas teh manis atau kopi panas. Opak Bakar Spesial yang terkenal yaitu OBS Dewi Merauke.

3. Jeniper

Jeniper

Jeniper

Jeniper singkatan dari Jeruk Nipis Peras adalah minuman khas dari Kuningan tentunya dengan bahan baku jeruk nipis dan gula pasir (selain Jeniper ada juga minuman serupa dengan nama Jenisa – Jeruk Nipis Asli-, bedanya minuman ini ditambah dengan madu). Minuman ini sangat segar apalagi jika disajikan dalam keadaan dingin tapi baik juga dalam keadaan hangat, jadi tergantung dengan selera masing-masing. Minuman ini mengandung banyak Vitamin C dan tanpa bahan pengawet sehingga aman dikonsumsi dan sangat bermanfaat agar tubuh kita tetap fit juga dapat menyembuhkan beberapa penyakit akibat kekurangan vitamin C seperti sariawan, panas dalam, sakit tenggorokan dan flu sampai masuk angin. Tersedia dalam kemasan botol besar dan botol kecil. Kadang juga dikasih aksessoris anyaman bambu pada botolnya agar bisa mudah ditenteng. Pusat dari produksi Jeniper dan Jenisa yaitu di desa Ciawigebang.

4. Raginang/Rengginang

raginang

Raginang

Raginang adalah makanan khas sejenis keripik yang terbuat dari beras ketan yang dikukus dengan rempah tertentu yang dikeringkan/dijemur kemudian digoreng. Biasanya dicetak dengan bentuk bulat atau lonjong.  Selain rasa yang original baik asin maupun manis sekarang sudah tersedia raginang dengan berbagai rasa seperti keju, pedas, dan rasa lainnya. Biasanya raginang aneka rasa tersebut sudah dibungkus dengan kemasan plastik.

5. Keripik Gadung

Keripik Gadung

Keripik Gadung

Keripik Gadung adalah keripik yang terbuat dari sejenis umbi yang bernama gadung. Tanaman Gadung (Discorea Hispida) banyak tumbuh di ladang-ladang perkebunan di Kuningan. Tidak semua orang yang bisa mengolah gadung menjadi keripik, karena jika tidak diolah dengan benar bisa menjadi beracun. Untuk menghilangkan racunnya Umbi Gadung yang sudah dibersihkan dan diiris tipis kemudian diperam dengan abu baru dijemur. Keripik Gadung rasanya khas dan tidak terlalu keras teksturnya berbeda dengan keripik umbi ataupun keripik ketela pohon.

6. Emping Melinjo

Emping

Emping adalah makanan kecil yang terbuat dari biji melinjo (Gnetum Gnemon) atau dalam bahasa Sunda disebut tangkil. Melinjo dipipihkan (dipeprek) dengan ukuran yang bervariasi ada yang kecil dan ada yang besar tergantung selera. Emping melinjo sudah diolah dengan berbagai rasa ada yang manis, asin dan pedas. Biasanya emping dengan aneka rasa hanyalah untuk emping dengan ukuran kecil saja, sedangkan untuk emping ukuran besar biasanya dengan rasa original sebagai teman makan nasi. Emping melinjo aneka rasa sudah dikemas dalam kemasan plastik. Emping Melinjo yang terkenal dari Kuningan adalah Emping melinjo produksi dari desa Karangtawang.

7. Gemblong/Kecimpring

Gemblong

Gemblong/Kecimpring adalah keripik yang terbuat dari ketela pohon yang diolah dengan berbagai bahan lain sehingga menjadi keripik yang gurih. Gemblong akan semakin nikmat sebagai teman makan baso, soto, mie ayam ataupun mie goreng. Rasa rempah yang khas dan tekstur keripik yang renyah membuat gemblong mempunyai cita rasa tersendiri. Gemblong Kuningan memang berbeda dengan gemblong dari daerah lain yaitu berupa makanan manis dengan bahan baku utama beras ketan. Jadi mungkin kita akan salah persepsi apabila menyebut gemblong, antara keripik dan kue.

8. Jawadah

Jawadah

Jawadah adalah makanan sejenis dodal dengan bahan utama beras ketan, gula merah, dan parutan kelapa. Jawadah  berbeda dengan jenis dodol, baik dari rasa maupun bentuknya. Jawadah dibuat dalam ukuran besar kemudian dipotong-potong menjadi ukuran yang lebih kecil. Jawadah, rasanya tidak terlalu manis, tetapi tetap legit. Jawadah pun biasa disebut dodol keureut (potong) karena bentuknya sudah dipotong-potong seperti koin tebal

9. Papais

Papais

Papais adalah makanan yang terbuat dari bahan baku beras ketan atau ketela pohon yang dibungkus dengan daun pisang.  Untuk Papais yang terbuat dari beras ketan ada  papais bugis yang berisi adonan parutan kelapa dan gula aren, ada papais monyong berbentuk kerucut dengan isi enten kacang hijau, ada papais koci yang berwarna hijau dengan enten gulamerah dan parutan kelapa dan  ada papais beureum yang berwarna merah tanpa isi. Kalau papais yang terbuat dari ketela pohon adalah nagasari yang dalamnya buah pisang atau cuma papais tanpa isi yang rasanya asin.

10. Leupeut

Leupeut

Leupeut adalah makan yang terbuat dari beras ketan dan sari kelapa kemudian dibungkus dengan daun kelapa muda yang dilipat dua ujungnya dan diikat dengan tali bambu. Leupeut rasanya gurih dan kenyal, cocok dimakan dengan ditemani kuping, ketempling, raginang, gemblong dan berbagi keripik lainnya.

11. Koecang

Koecang

Koecang adalah makanan sejenis bacang yang terbuat dari beras ketan yang dipadatkan, dicampur dengan sari apu dan dibungkus dengan daun bambu. Sehelai daun bambu melindungi isi dari tiga sisi, diakhiri dengan memasukkan tangkai daunnya ke dalam bagian ujung balutan yang agak terbuka dan terakhir diikat dengan tali bambu sehingga mudah ditenteng. Isi koecang adalah beras ketan berwarna kuning. Sama halnya dengan leupeut koecang cocok dimakan dengan ditemani kuping, ketempling, raginang, gemblong dan berbagi keripik lainnya.

12. Wajit Subang

Wajit Subang

Wajit Subang adalah makanan yang terbuat dari beras ketan,  gula merah dan kelapa yang diolah kemudian dibungkus dengan cangkang buah jagung atau kulit pohon pinang yang sudah dikeringkan. Rasanya manis dan legit cocok sebagai teman minum teh atau kopi.

13. Ketempling

Ketempling

Ketimpling adalah makanan sejenis gemblong dengan ukuran yang lebih kecil. Ketempling rasanya sama seperti gemblong cuma bentuknya bulat kembung kosong bagian tengahnya. Seperti gemblong ketimpling juga akan semakin nikmat sebagai teman makan baso, soto, mie ayam ataupun mie goreng.

14. Keripik Ubi

Keripik Ubi

Seperti namanya keripik ini terbuat dari ubi ungu dengan berbagai aneka rasa. Ubi Ungu banyak dibudidayakan di Kuningan sehingga tidak hanya untuk direbus tapi juga diolah menjadi berbagai panganan lainnya seperti berbagai jenis keripik, keremes, dan kue.

Kopi Luwak

15. Kopi Luwak Linggarjati

Kopi Luwak berasal dari kopi yang diambil dari kotoran luwak yang sengaja dibudidayakan di sekitar gunung Ciremai tepatnya daerah Linggarjati. Kopi Luwak terkenal karena rasa juga aromanya yang khas selain harganya yang mahal. Ada kepuasan tersendiri bagi para penikmatnya dalam menikmati secangkir kopi luwak.

16. Kuping Gajah / Rempeyek / Ronge-Ronge

kuping

Kuping Gajah/Rempeyek/Ronge-Ronge adalah makanan sejenis  keripik dengan bahan baku campuran antara tepung beras, air santan, kemiri, ketumbar, kencur, garam  yang ditaburi kacang baik kacang tanah, kacang kedelai ataupun kacang hijau kemudian digoreng. Rasanya gurih dan garing krenyes-krenyes, cocok dijadikan camilan.

Kelepon/Onde

17. Kelepon/Onde-onde

Kelepon/Onde-onde adalah kue yang terbuat dari tepung ketan yang dibentuk bulat menyerupai kelereng dengan isi gula merah dan dikasih parutan kelapa dibagian luarnya. Biasanya kelepon dikasih pewarna makanan baik hijau maupun merah. Kelepon rasanya manis dan kenyal.

18. Cuhcur

Cuhcur

Cuhcur adalah kue yang terbuat dari adonan beras ketan, gula merah, gula pasir dan santan yang digoreng. Rasanya manis dan agak keras. Cocok dijadikan camilan teman minum teh dan kopi.

19. Awug

Awug

Awug adalah makanan yang terbuat dar tepung beras, parutan kelapa, daun pandan dan gula merah. Bentuknya menyerupai tumpeng berupa gunungan kecil. Rasanya manis dan berserat.

20. Hadas

Hampir mirip Awug, hadas adalah makanan sejenis kue dengan bahan baku utama beras ketan dan kelapa. Rasanya manis dan berserat.

21. Sale Pisang

Sale Pisang

Sale Pisang adalah camilan dengan bahan baku utama pisang matang diiris kemudian dijemur untuk mengurangi kadar airnya dan lebih tahan lama. Kemudian pisang dengan adonan tepung digoreng. Selain rasa yang original ada beberapa pilihan rasa diantaranya adalah pisang sale rasa keju.

22. Keripik Pisang

Keripik Pisang adalah keripik yang dibuat dari pisang mentah yang diiris-iris tipis kemudian digoreng. Jenis pisang yang sering digunakan biasanya adalah pisang kepok kuning segar. Irisannya ada dipotong-potong membentuk lingkaran ataupun memanjang. Rasanya ada yang asin dan ada yang manis tergantung selera.

23. Keripik Singkong

Keripik Singkong

Keripik Singkong adalah makanan yang terbuat dari singkong/ketela pohon yang diiris tipis-tipis kemudian di goreng. Ada beberapa pilihan rasa diantaranya keju, pedas, dan asin.

24. Sasagon (Kue Kelapa)

Sasagon adalah kue dengan bahan baku tepung beras ketan dan kelapa.

25. Beca

Beca adalah keripik yang terbuat dari singkong dengan ukuran yang besar berbentuk lonjong atau bulat.

26. Ampyang

Ampyang

Ampyang adalah makanan yang dibuat dengan bahan baku utama kacang tanah dan gula merah.

27. Moho

Moho

Moho adalah makanan sejenis bakpau dengan isi kelapa dan gula merah, namun adapula yang berisi kacang hijau. Ukurannya lebih kecil dar bakpau, berwarna putih atau hijau.

28.  Golono

Golono adalah gorengan khas dari Luragung.

Gendar

29. Gendar

Gendar adalah keripik yang terbuat dari sisa nasi yang dikeringkan/dijemur kemudian dibentuk menjadi adonan keripik dan diiris tipis lalu digoreng.

30. Jaletot

31. Raragudig

Kue Satu

32. Kue Satu

Kue Satu adalah kue yang terbuat dari kacang hijau yang disanggrai dan dihaluskan dicampur dengan gula halus kemudian dicetak.

33. Kodowel

34. Ketan Uli

bakasem

35. Bakasem Kadongdong

Bakasem Kadongdong adalah manisan yang terbuat dari buah kedongdong.

36. Apem

Apem

Apem adalah makanan yang dibuat dari tepung beras ketan, gula, santan kelapa, ragi yang dibentuk manjadi adonan dan dicetak kemudian dibakar sampai matang dan mengembang. Teksturnya lembut dan berpori.

37. Angling

38. Rarawuan

Rarawuan

Rarawuan adalah makanan sejenis bakwan atau bala-bala, dengan bahan baku kacang hitam, kelapa kering dan terigu.

39. Wiwingka

Wiwingka

Wiwingka adalah kue berwarna kuning manis dan berserat. Makanan ini teksturnya legit dan cocok dimakan bersama teh hangat.

40. Tahu Lamping

Tahu Lamping

Tahu lamping adalah tahu asli Kuningan, berbeda dengan tahu Sumedang tahu ini lebih padat dan berisi juga memiliki rasa gurih yang khas. Rasanya yang khas konon karena proses pembuatannya yang menggunakan mata air di desa Cigadung yang berada di lamping (lereng) gunung Ciremai. Yang paling terkenal adalah tahu lamping Kopeci (Koperasi Pemuda Cigadung) berada di Jl. Veteran Jagabaya.

41. Putri Noong

Putri Noong

Putri Noong adalah kue yang terbuat dari parutan singkong dan pisang nangka lalu dibaluri oleh parutan kelapa.

Oleh: yellowcity | Maret 23, 2012

Serba Kuning…

Sudah suratan takdir kalo saya ketemu lagi yang serba kuning. Dulu sempat kecewa karena pas SPMB ngga keterima disalah satu Universitas negeri elit di Jakarta ini dan dengan senang hati akhirnya memutuskan pergi kuliah di Bandung. Setelah dua tahun kerja dan dapat kesempatan beasiswa akhirnya kesampaian juga untuk mencicipi kuliah di kampus kuning.

Lucunya lagi sekarang setelah menjadi mahasiswa jaket kuning, kalau pergi kuliah naik commuter line pasti berangkatnya dari stasiun kuning Gondangdia menuju stasiun yang juga didominasi warna kuning yaitu stasiun UI. Kemudian untuk meluncur ke fakultas tercinta dilanjutkan dengan naik bis kuning (bikun) dari stasiun. Benar-benar sudah  terjerumus kedunia perkuningan.

Oleh: yellowcity | Maret 23, 2012

Kembali Nulis

Wahh.. lama juga ya ngga nulis  lagi, kayaknya sudah hampir dilupakan ini blog. Jadi lumayan bingung juga mau nulis apaan. Beginilah resikonya kalo kelamaan ngga nulis jadi butek.

Lama ngga pulang ke Kuningan jadi kangen juga, dulu pas masih di Bandung minimal sebulan sekali pasti pulang. Lalu pindah kerja ke Surabaya setengah tahun disana juga ga pulang-pulang ke Kuningan. Sudah seneng balik lagi ke Bandung, ternyata nasib berkata lain dan harus segera pindah ke Jakarta.

Itulah hidup, kita sebagai manusia tidak pernah akan tahu rencana-Nya. Berpindah-pindah ketiga kota dalam tiga tahun terakhir, dan semoga ini yang terakhir. Tinggal di kota berbeda membuat saya harus memilih KTP mana yang akan saya pake. Dula pas kuliah sampe  kerja di Bandung membuat saya akhirnya mempunyai KTP Bandung meskipun sebelumnya saya sudah punya KTP Kuningan. Terus karena kerja di Surabaya cuma sebentar jadi ngapain juga ngurus KTP sana. Sekarang pas sudah menetap kerja di Jakarta saya pun punya KTP Jakarta. Dan setelah pindah rumah ke Bogor, haruskah pindah KTP Bogor ???

Meskipun sudah mempunyai KTP lain tetapi tetep kalo ditanya asalnya dari mana?? Dengan bangga akan saya jawab Urang Kuningan…

Oleh: yellowcity | Juli 26, 2010

KUNINGAN DAN ADIPURA

piala adipura

Kota Kuningan sudah meraih Piala Adipura untuk kategori kota kecil terbersih sebanyak 7 kali. Lima kali diperoleh secara berturut-turut sejak tahun 1991-1995, tahun 2008 dan yang terakhir pada tahun 2010. Piala Adipura merupakan penghargaan tertinggi kepada kabupaten yang berhasil menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan hidup. Piala ini pernah vakum beberapa tahun dan bahkan pernah berganti nama menjadi Piala Bangun Praja. Namun karena dinilai kurang tenar oleh Menteri Lingkungan Hidup diganti kembali Piala Adipura.

Ada sebuah ceremonial yang sering dilakukan setelah sukses meraih Piala Adipura. Piala Adipura itu biasanya akan diarak menggunakan kendaraan hias keliling Kota Kuningan. Arak-arakan dimulai dari tugu perbatasan Kab. Cirebon-Kab. Kuningan, untuk selanjutnya diarak mengelilingi jalan-jalan protokol di antaranya, Jl. Siliwangi, Jl.Veteran, Jl. A. Yani, Jl. Otista, Jl.Aruji dan berakhir di halaman Pendopo Bupati.

Namun sebenarnya hakikat penghargaan Adipura ini adalah bagaimana kita sebagai warga Kuningan benar-benar bisa menjaga lingkungan di sekitar kita agar tetap bersih dan lestari. Tentunya hal ini bukan hanya  menjadi tugas Pemda ataupun tugas pasukan kuning yang setiap hari tekun membersihkan jalan protokol tak peduli hujan angin ataupun teriknya sinar matahari menerpa. Ini adalah tugas bersama, dimulai dari diri sendiri dengan melakukan hal yang terkecil seperti tidak membuang sampah sembarangan dan dimulai saat ini pula. Selamat bagi kota Kuningan tercinta…

Tradisi merantau dan berwirausaha ikut mengubah wajah pedesaan di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Tradisi itu pula yang membawa pemuda Kuningan berhasil menaklukkan kehidupan.

Para perantau asal Kuningan dikenal sebagai wiraswasta ulung dan tangguh. Mereka menyebar dan mendirikan usaha kecil-kecilan, tetapi menggurita. Salah satu usaha yang cukup dikenal luas adalah warung bubur kacang hijau alias burjo yang sudah menjadi bagian dari kehidupan warga kota.

Para perantau ini melanjutkan tradisi yang diawali Salim Saca Santana, mantan Lurah Kaliwon Desa Balong, Kecamatan Garawangi Utara, 60 tahun silam. Karena ekonomi desa sulit, Salim berjualan bubur untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Dalam buku Mengawetkan Pengalaman: Dinamika Warung Bubur Kacang Hijau Kuningan yang ditulis Sukiman, disebutkan bahwa Salim menyebarluaskan resep membuat burjo kepada warga desanya. Pada 1950, lima pemuda membawa resep itu sebagai bekal merantau. Dari situlah cikal bakal para perantau burjo Kuningan berawal.

Kini, setelah 60 tahun berlalu, jumlah perantau dari daerah ini diperkirakan lebih dari 2.000 orang. Mereka berasal dari 20 desa di Kecamatan Sindangagung dan Garawangi, Kabupaten Kuningan. Mereka menyebar, memasuki nadi perekonomian warga di gang-gang sempit di kota-kota besar, seperti Jakarta, di pelosok desa di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, bahkan hingga ke luar Jawa. Mengutip ungkapan E Supardja (65), juragan burjo dari Desa Mekarmulya, Kecamatan Sindangagung, ”Di mana ada denyut kehidupan manusia, di sanalah perantau burjo ada.”

Jangan dibayangkan mereka datang dan merintis bisnis dengan berbagai keahlian atau modal miliaran rupiah. Perantau ini hanya berbekal tekad dan keterampilan membuat bubur serta rasa persaudaraan.

Aci Sukarji (40) adalah juragan warung burjo dari Babakanreuma, Kecamatan Sindangagung, yang merantau hanya dengan modal dengkul. Ia ikut tetangganya yang lebih dulu punya warung di Jakarta, 15 tahun lalu. Selama merantau, Aci bekerja tiga tahun mengumpulkan modal dan pengalaman. Dari sekadar uang receh Rp 1.000-an yang terkumpul, ditambah hasil pinjam bank Rp 1,5 juta, Aci akhirnya bisa mendapatkan modal untuk mendirikan warung.

”Berbekal kacang hijau, mi instan, dan tetangga sebagai pekerja, akhirnya warung itu jalan,” kata Aci, akhir Februari lalu. Penjual burjo yang bertahun-tahun ”mengukur” jalanan Ibu Kota dengan jalan kaki itu kini sudah sedikit nyaman duduk di belakang Toyota Avanzanya.

Namun, tidak semua perantau yang mengandalkan bisnis burjo selalu berujung manis. Jatuh bangun dalam berusaha selalu ada. Mujahid, juragan burjo lain dari Kertayasa, Kecamatan Sindangagung, pernah gagal membangun bisnis burjo di Yogyakarta. Kini ia bangkit lagi dengan bisnis yang sama di desanya. Baginya, laku atau tidak adalah hal biasa dalam berdagang.

Burjo memang bisnis sederhana. Hasil penjualan dikurangi modal dan gaji karyawan, serta sewa tempat selama setahun, adalah pendapatan bersih para juragan. Di warung burjo Toha di Kota Cirebon, pendapatan karyawan yang bekerja 20 hari berkisar Rp 1,5 juta. Adapun sang juragan bisa mendapatkan Rp 2 juta-Rp 4 juta.

Bekal persaudaraan

Para juragan burjo dari Kuningan selalu memegang teguh persaudaraan. Meski sudah sukses dan kaya, mereka tidak lupa kepada tetangga dan sanak saudara di desa. Aci, misalnya, saat membuka warung baru di Jakarta, awal Januari lalu, mengajak tiga pemuda di desanya bergabung untuk bekerja dan belajar di perantauan.

”Daripada setamat SMA menganggur, lebih baik ikut saya. Gaji mungkin tak banyak, tetapi nantinya bisa belajar berwiraswasta,” ujar bos burjo yang punya tiga warung itu.

Meski sama-sama menjalankan bisnis burjo, bukan persaingan yang muncul di antara para perantau ini. Rasa senasib justru lebih mengemuka.

Ketika sakit, Ero (40), karyawan burjo Toha, dibantu teman seperantauannya. Saat krisis moneter melanda, Supardja, juragan burjo, tak pernah mem-PHK karyawan. Dalam kondisi sulit, ”anak didik”-nya rela bekerja meski gajinya tertunda.

Dari cara seperti itulah para perantau asal Kuningan membangun gurita bisnis yang kokoh dan tahan krisis. Selain mencari rezeki, mereka juga membantu kehidupan teman sekampung.

Hasil bisnis burjo tidak sedikit. Jika satu warung bisa menghasilkan Rp 4 juta per bulan, jumlah total pendapatan 1.000 warung dalam setahun mencapai Rp 48 miliar. Jumlah ini hampir setara pendapatan asli Kabupaten Kuningan.

Para perantau itu pun membawa perubahan besar bagi kampung halaman. Di Desa Kertayasa, jalan aspal sudah bukan lagi hal baru. Parabola atau mobil roda empat menghiasi rumah-rumah para juragan burjo yang kini bergelar haji. Jika 20 tahun lalu lulus SMA saja sudah luar biasa, kini—menurut Lurah Kertayasa Oteng Sutara—sudah biasa bila para pemuda kuliah di luar kota.

Bupati Kuningan Aang Hamid Suganda mengakui, para perantau telah menghidupkan bisnis transportasi dan mengurangi pengangguran. Mereka menggerakkan ekonomi rakyat Kuningan secara keseluruhan.

Tradisi merantau dan berwirausaha inilah yang mengubah wajah kehidupan masyarakat Kuningan. Seperti halnya para penjual jamu dan bakso dari Wonogiri, atau pengusaha warung Tegal dari Jawa Tengah, mereka memilih tidak berpangku tangan. Mereka berdiaspora membentuk kemandirian, mengubah wajah suram tanah asal menjadi sebuah harapan.

sumber: kompas

Oleh: yellowcity | September 23, 2008

Kedungarum

Kedungarum adalah desa di kecamatan Kuningan, kabupaten Kuningan, propinsi Jawa Barat, Indonesia.

1. Etimologi

Kedungarum berasal dari dua kata yaitu kedung dan arum

2. Pemerintahan

Kedungarum berbentuk sebuah desa yang dikepalai oleh seorang kepala desa tau lebih dikenal dengan sebutan kuwu. Sebagai aparatur negara kuwu dibantu oleh kepala dusun, pamong desa dan hansip. Satu dusun atau kampung biasanya merupakan satu RW (Rukun Warga) yang membawahi beberapa RT (Rukun tetangga). RW dipimpin oleh Ketua RW dan RT dipimpin oleh Ketua RT.

3. Profil Daerah

Batas Wilayah

Batas wilayah desa Kedungarum

  •     Di sebelah utara berbatasan dengan desa Kasturi.
  •     Di sebelah selatan berbatasan dengan kelurahan Cirendang .
  •     Di sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Cijoho.
  •     Di sebelah timur berbatasan dengan kelurahan Ciporang.

Geografis

Wilayah desa Kedungarum berbukit-bukit. Keadaan iklim desa Kedungarum dipengaruhi oleh iklim tropis dan angin muson, dengan temperatur bulanan berkisar antara 18° C – 32° C serta curah hujan berkisar antara 2.000 mm – 2.500 mm per tahun. Pergantian musim terjadi antara bulan November – Mei adalah musim hujan dan antara bulan Juni – Oktober adalah musim kemarau.

4.  Ekonomi

Selain sektor pertanian, perekonomian Kedungarum juga didukung oleh sektor perdagangan, sektor jasa dan sebagainya.

Pertanian

Seperti daerah lainnya di Kuningan kebanyakan pertanian yang berkembang adalah tanaman padi dan palawija.

Perkebunan

Hasil perkebunan yang biasanya dibudidayakan kebanyakan dari jenis buah-buahan seperti:pisang, mangga, rambutan dan juga melinjo.

5. Demografi

Penduduk desa Kedungarum berjumlah 2.329 orang, terdiri dari:

  •     1.145 orang laki-laki
  •     1.184 orang perempuan

100% beragama Islam , mayoritas pekerjaan penduduk desa Kedungarum adalah petani, yang lainya bekerja sebagai PNS , wiraswasta , pedagang dan sebagainya.

Kode Pos 45513

6. Pendidikan

Sekolah dasar yanga ada di kelurahan Kedungarum antara lain:

  •     SDN Kedungarum I (terletak di Jl. Moh Toha No.56 )
  •     SDN Kedungarum II (terletak di Jl. Moh Toha No.147 )
Oleh: yellowcity | September 23, 2008

Cirendang

Cirendang adalah kelurahan di kecamatan Kuningan, kabupaten Kuningan, propinsi Jawa Barat, Indonesia.

1. Sejarah

Sawah terasering di kelurahan Cirendang

Cirendang berasal dari dua kata Ci dan rendang, ci berasal dari bahasa Sunda yaitu kata cai artinya air, sedangkan rendang adalah sejenis makanan.

Menurut sebuah keterangan, Nama “Cirendang” berasal dari nama mata air, dimana dahulu di daerah yang sekarang menjadi kelurahan cirendang terdapat banyak sekali mata air, diperkirakan di sekitar mata air cirendang itulah mulai terbentuk pemukiman dan berkembang hingga menjadi kelurahan. Namun dikarenakan oleh banyak pohon yang ditebang untuk lahan pemukiman, sumber mata air menjadi berkurang. Walaupun demikian masih terdapat banyak mata air yang digunakan untuk irigasi atau pengairan kolam ikan.

2. Pemerintahan

Cirendang adalah salah satu kelurahan di kecamatan Kuningan jadi wilayah ini dikepalai oleh seorang lurah.

3. Geografis

Wilayah kelurahan Cirendang berbukit di sebelah selatan yang berbatasan dengan Citangtu. Keadaan iklim kelurahan Cirendang dipengaruhi oleh iklim tropis dan angin muson, dengan temperatur bulanan berkisar antara 18° C – 32° C serta curah hujan berkisar antara 2.000 mm – 2.500 mm per tahun. Pergantian musim terjadi antara bulan November – Mei adalah musim hujan dan antara bulan Juni – Oktober adalah musim kemarau.

4. Perbatasan

  1. Di sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Kramatmulya.
  2. Di sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Cigintung dan Kecamatan Cigugur.
  3. Di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Cigugur.
  4. Di sebelah timur berbatasan dengan  Kecamatan Kramatmulya.

5. Ekonomi

Orang-orang kelurahan Cirendang dikenal sebagai pebsinis ulung. Banyak diantaranya yang berdagang di Pasar Baru Kuningan, dari muali toko kelontong, sampai makanan. Hanya kurang dari separuhnya yang berfrofesi sebagai petani.

6. Pertanian

Seperti daerah lainnya di Kuningan kebanyakan pertanian yang berkembang adalah tanaman padi dan palawija.

7.Perkebunan

Hasil perkebunan yang biasanya dibudidayakan kebanyakan dari jenis buah-buahan seperti:pisang, mangga, rambutan dan juga melinjo.

Salah satu hal yang unik adalah sebagian besar penduduk kelurahan cirendang memiliki pohon cengkeh baik ditanam di kebun atau di halaman rumah, karena cengkeh termasuk komoditi yang cukup berharga maka ada kebiasaan warga yang memungut cengkeh yang jatuh atau memetik sisa-sisa dari pohon yang telah dipanen, kegiatan ini bisa dilakukan sendiri atau berkelompok untuk menambah semangat.

8. Demografi

Penduduk kelurahan Cirendang berjumlah 4.607 orang, terdiri dari:

  •     2.327 orang laki-laki
  •     2.280 orang perempuan

Penduduk kelurahan Cirendang sebagian besar beragama islam (hampir 100%) dan hanya beberapa orang (terutama pendatang) yang beragama lain (misal: kristen dan kong hu chu) . Dominasi pekerjaan penduduk Kelurahan Cirendang yaitu sebagai petani, PNS , wiraswasta dan sebagainya. Ada juga yang merantau (kerja/bisnis) ke daerah jabodetabek namun masih berdomisili / bertempat tinggal di kelurahan cirendang.

9. Pendidikan

Sekolah dasar yanga ada di kelurahan Cirendang antara lain:

SDN Cirendang I (terletak di blok Karoya)
SDN Cirendang II (terletak di blok Cikedung II)

10. Kesenian

Jenis kesenian yang berkembang di kelurahan Cirendang yaitu Wayang Golek.

11.  Akses transportasi

Untuk mencapai Kelurahan Cirendang dari pusat kota Kuningan sangat mudah, karena di Cirendang terdapat terminal. Jaraknya dari kota Kuningan kurang lebih 4 km. Ada dua angkutan umum yang melewati jalan raya Cirendang yaitu:

  • angkot 03 jurusan Pasarbaru-Cirendang
  • angkot 04 jurusan Pramuka-Cirendang
  • angkot 08 jurusan Lengkong-Cirendang
Oleh: yellowcity | September 23, 2008

Cigintung

Cigintung adalah kelurahan di kecamatan Kuningan, kabupaten Kuningan, propinsi Jawa Barat, Indonesia.

1. Etimologi

Cigintung berasal dari dua kata yaitu Ci atau cai dalam bahasa Sunda berarti air dan kata gintung.

2. Pemerintahan

Cigintung adalah salah satu kelurahan di kecamatan Kuningan, jadi wilayah ini dikepalai oleh seorang lurah. Sebagai aparatur negara lurah dibantu oleh kepala dusun, aparatur kelurahan dan hansip. Satu dusun atau kampung biasanya merupakan satu RW (Rukun Warga) yang membawahi beberapa RT (Rukun tetangga). RW dipimpin oleh Ketua RW dan RT dipimpin oleh Ketua RT.

3. Geografi

Wilayah kelurahan Cigintung berbukit – bukit. Keadaan iklim kelurahan Cigintung dipengaruhi oleh iklim tropis dan angin muson, dengan temperatur bulanan berkisar antara 18° C – 32° C serta curah hujan berkisar antara 2.000 mm – 2.500 mm per tahun. Pergantian musim terjadi antara bulan November – Mei adalah musim hujan dan antara bulan Juni – Oktober adalah musim kemarau.

4. Perbatasan

  1. Di sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Cigugur.
  2. Di sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Purwawinangun.
  3. Di sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Kuningan.
  4. Di sebelah timur berbatasan dengan  Kelurahan Cirendang.

5. Ekonomi

Orang-orang kelurahan Cigintung dikenal sebagai pebisinis ulung. Banyak diantaranya yang berdagang di Pasar Baru Kuningan, dari mulai toko kelontong, sampai makanan. Hanya kurang dari separuhnya yang berfrofesi sebagai petani.

6. Pertanian

Seperti daerah lainnya di Kuningan, kebanyakan pertanian yang berkembang adalah tanaman padi dan palawija.

7. Perkebunan

Hasil perkebunan yang biasanya dibudidayakan kebanyakan dari jenis buah-buahan seperti: pisang, mangga, rambutan dan juga melinjo.

8. Demografi

Penduduk kelurahan Cigintung berjumlah 3.109 orang, terdiri dari:

  •     1.725 orang laki-laki
  •     1.384 orang perempuan

100% beragama Islam . Dominasi pekerjaan penduduk Kelurahan Cigintung yaitu sebagai petani, PNS , wiraswasta dan sebagainya.

9. Pendidikan

Sekolah dasar yanga ada di kelurahan Cigintung antara lain:

  •     SDN Cigintung (terletak di Jl. Kel. Cigintung No. 18)
Oleh: yellowcity | September 22, 2008

Purwawinangun

Purwawinangun adalah kelurahan di kecamatan Kuningan,kabupaten Kuningan, propinsi Jawa Barat, Indonesia.

1. Sejarah

Pendopo kabupaten di kelurahan Purwawinangun

Purwawinangun berarti awal dibangun. Sebelum kedatangan Islam, Masyarakat Kuningan menganut agama Hindu dan merupakan Daerah otonom yang masuk wilayah kerajaan Sunda yang dikenal dengan nama Pajajaran, seluruh Jawa barat termasuk Cirebon pada tahun 1389 M masuk bagian dari Pajajaran dengan pelabuhannya saat itu meliputi Cirebon, Indramayu, Karawang, Sunda Kelapa dan Banten.Waktu Cirebon dibawah pimpinan Ki Gedeng Jumajanjati anaknya Ki Gedeng Kasmaya, datanglah pelaut Cina yang dipimpin oleh Laksamana Te Ho ( Cheng Ho) dan sebagai rasa terimakasihnya atas sambutan rakyat Cirebon, maka dibuatlah Mercusuar di Pelabuhan Cirebon itu.Setelah itu Pelabuhan Cirebon kedatangan seorang ulama Islam yang bernama Syekh Idhofi ( Syekh Datuk Kahfi ) yang dikenal denganjulukan Syeh Nuruljati. Ulama ini kemudian mendirikan pesantren dikaki bukit Sembung dan menetap di Pesambangan ( Desa Jatimerta). Salah satu murid ulama ini ada yang bernama Pangeran Walangsungsang Cakrabuana dan mendirikan sebuah kota bernama Caruban yang kemudian dikenal dengan nama Cirebon. Setelah ia berhaji mendapat julukan Haji Duliman yang akhirnya memimpin pemerintahan diCirebon. Saat itu di pelabuhan Karawang datang juga seorang ulama yang bernama Syekh Hasanuddin dari Campa dan dikenal dengan sebutan Syekh Quro karena mendirikan pesantren Quro. Dikemudian hari pesantren ini kedatangan Syekh Maulana Akbar yang meneruskan perjalanannya ke Pesambangan.Dalam perjalanannya mengembangkan Islam, Syekh Maulana Akbar ini pernah singgah sebentar di daerah Buni Haji – Luragung , kemudian melanjutkannya sampai ke daerah Kuningan yang pada waktu itu dikenal dengan nama Kejene (artinya Kuning) , penduduknya menganut agama Hindu ( Agama Sanghiang), dengan pusat pemerintahannya di daerah Sidapurna yang artinya sempurna. Syech Maulana Akbar akhirnya menetap disana dan mendirikan pesantren di Sidapurna serta menikah dengan seorang putri pejabat pemerintahan Kejene dan mempunyai seorang putra bernama Syekh Maulana Arifin atau syekh Arif. Karena pesatnya kemajuan pesantren ini sehingga tidak cukup menampung para pendatang, maka dibuatlah pemukiman baru dengan dasar Islam yang diberi nama Purwawinangun ( Artinya mula-mula dibangun ). Syekh Maulana Akbar ini meninggal dan dimakamkan di Astana Gede.Syekh Arif ini meneruskan usaha yang telah dirintis oleh ayahnya dengan memajukan bidang peternakan, terutama peternakan kuda yang khas di Kejene ( kuda Kejene yang kemudian terkenal dengan sebutan Kuda Kuningan )

2. Pemerintahan

Purwawinangun  adalah salah satu kelurahan di kecamatan Kuningan, jadi wilayah ini dikepalai oleh seorang lurah. Sebagai aparatur negara lurah dibantu oleh kepala dusun, aparatur kelurahan dan hansip. Satu dusun atau kampung biasanya merupakan satu RW (Rukun Warga) yang membawahi beberapa RT (Rukun Tetangga). RW dipimpin oleh Ketua RW dan RT dipimpin oleh Ketua RT.

3.  Profil Daerah

Batas Wilayah

Batas wilayah kelurahan Purwawinangun

Di sebelah utara berbatasan dengan kelurahan Cigintung dan kelurahan Cijoho.
Di sebelah selatan berbatasan dengan kelurahan Kuningan.
Di sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Winduherang.
Di sebelah timur berbatasan dengan kelurahan Awirarangan.

Geografis

Kelurahan Purwawinangun wilayahnya agak berbukit dan juga berupa dataran. Keadaan iklim kelurahan Purwawinangun dipengaruhi oleh iklim tropis dan angin muson, dengan temperatur bulanan berkisar antara 18° C – 32° C serta curah hujan berkisar antara 2.000 mm – 2.500 mm per tahun. Pergantian musim terjadi antara bulan November – Mei adalah musim hujan dan antara bulan Juni – Oktober adalah musim kemarau.

4. Ekonomi

Orang-orang Kelurahan Purwawinangun mempunyai berbagai profesi dari mulai PNS, Pedagang, Wiraswasta dan sebagainya

5. Pertanian

Kelurahan Purwawinangun tinggal sedikit lahan pertaniannya. Seperti daerah lainnya di Kuningan kebanyakan pertanian yang berkembang adalah tanaman padi dan palawija.

6. Perkebunan

Hasil perkebunan yang biasanya dibudidayakan kebanyakan dari jenis buah-buahan seperti:pisang, mangga dan rambutan.

7. Demografi

Penduduk kelurahan Purwawinangun berjumlah 13.393 orang, terdiri dari:

  •     6.690 orang laki-laki
  •     6.703 orang perempuan

94% beragama Islam dan ada juga yang beragama Kristen dan Budha. Perdagangan mendominasi pekerjaan penduduk Purwawinangun sekitar 50%, lainya bekerja sebagai petani, PNS , TNI, Polisi, Karyawan, wiraswasta dan sebagainya.

Kode Pos 45512

8. Pendidikan

Di Kelurahan Purwawinangun terdapat delapan sekolah dasar yaitu:

  •     SDN Purwawinangun I (terletak di Jl. Siliwangi No. 45 )
  •     SDN Purwawinangun II (terletak di Jl. Pramuka No. 15 )
  •     SDN Purwawinangun III (terletak di Jl. Wijaya No. 55 )
  •     SDN Purwawinangun IV (terletak di Jl. Pramuka No. 98 )
  •     SDN Purwawinangun V (terletak di Jl. Ramajaksa No. 371 )
  •     SDN Purwawinangun VI (terletak di Jl. Siaga Indah No. 16 )
  •     SDN Purwawinangun VII (terletak di Jl. Purwawinangun No. 89)
  •     SDN Purwawinangun VIII (terletak di Jl.Syekh Maulana Akbar)

9.  Akses Transporatasi

Karena terletak di pusat kota Kuningan maka akses transportasi tidak terlalu sulit, hampir semua angkot melewati daerah ini seperti: angkot 01, angkot 02, angkot 03, angkot 04, angkot 06, angkot 09 dan angkot 10.

Oleh: yellowcity | September 22, 2008

Kuningan

Kuningan adalah kelurahan di kecamatan Kuningan, kabupaten Kuningan, propinsi Jawa Barat, Indonesia.

1. Sejarah

Masjid Syiarul Islam di kelurahan Kuningan

Dalam cerita Parahyangan disebutkan bahwa ada suatu pemukiman yang mempunyai kekuatan politik penuh seperti halnya sebuah negara, bernama Kuningan. Kerajaan Kuningan tersebut berdiri setelah Seuweukarma dinobatkan sebagai Raja yang kemudian bergelar Rahiyang Tangkuku atau Sang Kuku yang bersemayam di Arile atau Saunggalah. Seuweukarma menganut ajaran Dangiang Kuning dan berpegang kepada Sanghiyang Dharma (Ajaran Kitab Suci) serta Sanghiyang Riksa (sepuluh pedoman hidup). Ekspansi kekuasaan Kuningan pada zaman kekuasaan Seuweukarma menyeberang sampai ke negeri Melayu. Pada saat itu masyarakat Kuningan merasa hidup aman dan tentram di bawah pimpinan Seuweukarma yang bertahta sampai berusia lama.

Perkembangan kerajaan Kuningan selanjutnya seakan terputus, dan baru pada 1175 masehi muncul lagi. Kuningan pada waktu itu menganut agama Hindu di bawah pimpinan Rakean Darmariksa dan merupakan daerah otonom yang masuk wilayah kerajaan Sunda yang terkenal dengan nama Pajajaran. Cirebon juga pada tahun 1389 masehi masuk kekuasaan kerajaan Pajajaran, namun pada abad ke-15 Cirebon sebagai kerajaan Islam menyatakan kemerdekaannya dari Pakuan Pajajaran.

Pada tahun 1470 masehi datang ke Cirebon seorang ulama besar agama Islam yaitu Syeh Syarif Hidayatullah putra Syarif Abdullah] dan ibunya Rara Santang atau Syarifah Modaim putra Prabu Syarif Hidayatullah adalah murid Sayid Rahmat yang lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel yang memimpin daerah ampeldenta di Surabaya.

Kemudian Syeh Syarif Hidayatullah ditugaskan oleh Sunan Ampel untuk menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, dan mula-mula tiba di Cirebon yang pada waktu Kepala Pemerintahan Cirebon dipegang oleh Haji Doel Iman. Pada waktu 1479 masehi Haji Doel Iman berkenan menyerahkan pimpinan pemerintahan kepada Syeh Syarif Hidayatullah setelah menikah dengan putrinya. Karena terdorong oleh hasrat ingin menyebarkan agama Islam, pada tahun 1481 Masehi Syeh Syarif Hidayatullah berangkat ke daerah Luragung yang masuk wilayah Cirebon Selatan yang pada waktu itu dipimpin oleh Ki Gedeng Luragung yang bersaudara dengan Ki Gedeng Kasmaya dari Cirebon, selanjutnya Ki Gedeng Luragung memeluk agama Islam.

Pada waktu Syeh Syarif Hidayatullah di Luragung, datanglah Ratu Ontin Nio istrinya dalam keadaan hamil dari negeri Cina (bergelar: Ratu Rara Sumanding) ke Luragung, dari Ratu Ontin Nio alias Ratu Lara Sumanding lahir seorang putra yang tampan dan gagah yang diberi nama Pangeran Kuningan. setelah dari Luragung, Syeh Syarif Hidayatullah dengan rombongan menuju tempat tinggal Ki Gendeng Kuningan di Winduherang, dan menitipkan Pangeran Kuningan yang masih kecil kepada Ki Gendeng Kuningan agar disusui oleh istri Ki Gendeng Kuningan, karena waktu itu Ki Gendeng Kuningan mempunyai putera yang sebaya dengan Pangeran Kuningan namanya Amung Gegetuning Ati yang oleh Syeh Syarif Hidayatullah diganti namanya menjadi Pangeran Arya Kamuning serta beliau memberikan amanat bahwa kelak dimana Pangeran Kuningan sudah dewasa akan dinobatkan menjadi Adipati Kuningan.

Setelah Pangeran Kuningandan Pangeran Arya Kamuning tumbuh dewasa, diperkirakan tepatnya pada bulan Muharam tanggal 1 September 1498 Masehi, Pangeran Kuningan dilantik menjadi kepala pemerintahan dengan gelar Pangeran Arya Adipati Kuningan dan dibantu oleh Arya Kamuning. Maka sejak itulah dinyatakan sebagai titik tolak terbentuknya pemerintahan Kuningan yang selanjutnya ditetapkan menjadi tanggal hari jadi Kuningan

2. Pemerintahan

Selain sebagai ibukota kabupaten dan ibukota kecamatan Kuningan juga merupakan salah satu kelurahan yang dipimpin oleh seorang lurah. Sebagai aparatur negara lurah dibantu oleh kepala dusun, aparatur kelurahan dan hansip. Satu dusun atau kampung biasanya merupakan satu RW (Rukun Warga) yang membawahi beberapa RT (Rukun tetangga). RW dipimpin oleh Ketua RW dan RT dipimpin oleh Ketua RT.

3. Geografis

Kelurahan Kuningan terletak di kaki gunung Ciremai,dialiri oleh sungai Citamba. Kontur wilayahnya sedikit berbukit di sebelah dan juga rata sedikit berkontur . Keadaan iklim kelurahan Kuningan dipengaruhi oleh iklim tropis dan angin muson, dengan temperatur bulanan berkisar antara 18° C – 32° C serta curah hujan berkisar antara 2.000 mm – 2.500 mm per tahun. Pergantian musim terjadi antara bulan November – Mei adalah musim hujan dan antara bulan Juni – Oktober adalah musim kemarau.

4. Perbatasan

  1. Di sebelah utara berbatasan dengan kelurahan Purwawinangun.
  2. Di sebelah selatan berbatasan dengan desa Cibinuang.
  3. Di sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Awirarangan.
  4. Di sebelah timur berbatasan dengan kelurahan Awirarangan.

5. Ekonomi

Sebagai ibukota kabupaten kelurahan Kuningan menjadi sentra bisnis dan pemerintahan di Kabupaten Kuningan

6. Pertanian

Di kelurahan Kuningan sudah tidak banyak lagi terdapat lahan pertanian.

7. Perkebunan

Di kelurahan Kuningan sudah tidak banyak lagi terdapat lahan perkebunan.

8. Demografi

Kelurahan Kuningan banyak terdiri dari para pendatang. Penduduk kelurahan Kuningan berjumlah 12.478 orang, terdiri dari:

  •     6.229 orang laki-laki
  •     6.249 orang perempuan

9. Pendidikan

Banyak terdapat pusat pendidikan dari mulai TK sampai ke SMU yanga ada di kelurahan Kuningan diantaranya:

  •     SDN Kuningan I (terletak di Jl. Siliwangi No. 103)
  •     SDN Kuningan II (terletak di Jl. Veteran No. 33)
  •     SDN Kuningan III (terletak di Jl. Babakan No. 194)
  •     SDN Kuningan IV (terletak di Jl. Aria Kamuning No. 30)
  •     SDN Kuningan V (terletak di Jl. Ahmad Yani No. 473)
  •     SDN Kuningan VII (terletak di Jl. Siliwangi No. 105)
  •     SDN Kuningan IX (terletak di Jl. Kepuh No. 225)
  •     SDN Kuningan X (terletak di Jl. Veteran No. 56)
  •     SDN Kuningan XI (terletak di Jl. Puspalubis No. 157 A)
  •     MIS PUI Kuningan (terletak di Jl. Syekh Maulana Akbar No.29)
  •     MIS Cokroaminoto (terletak di Jl. Ir. Juanda No. 22)

Sekolah Menengah Pertama yanga ada di kelurahan Kuningan antara lain:

  •     SMPN 1 Kuningan (terletak di Jl. Siliwangi No. 74)
  •     SMPN 2 Kuningan (terletak di Jl. Otto Iskandardinata No. 136)
  •     SMPN 3 Kuningan (terletak di Jl. Pramuka No. 194)
  •     SMPN 7 Kuningan (terletak di Jl. Aruji Kartawinata No.4)
  •     MTs Yamsik (terletak di Jl. Ir. H. Juanda No.93)
  •     MTs PUI Kuningan (terletak di Jl. Syekh Maulana Akbar No.29)

Sekolah Menengah Umum yanga ada di kelurahan Kuningan antara lain:

  •     SMUN 1 Kuningan (terletak di Jl. Siliwangi No. 103)
  •     SMUN 2 Kuningan (terletak di Jl. Aruji Kartawinata No. 16)
  •     SMUN 3 Kuningan (terletak di Jl. Siliwangi No. 13)
  •     SMU Kosgoro (terletak di Jl. Aruji kartawinata No. 119)

Sekolah Menengah Kejuruan yanga ada di kelurahan Kuningan antara lain:

  •     SMK YAMSIK (terletak di Jl. Ir. Juanda No. 93)
  •     SMA KOSGORO (terletak di Jl. Aruji kartawinata No. 119)

10.  Akses Transportasi

Semua angkot jurusan kota masuk ke wilayah kelurahan Kuningan.

Oleh: yellowcity | September 21, 2008

Cijoho

Cijoho adalah kelurahan di kecamatan Kuningan, kabupaten Kuningan, propinsi Jawa Barat, Indonesia.

1. Etimologi

Tugu bokor Kuningan di perempatan Cijoho

Cijoho berasal dari dua kata yaitu Ci atau cai dalam bahasa Sunda berarti air dan joho adalah nama sebuah pohon.

2. Pemerintahan

Cijoho adalah salah satu kelurahan di kecamatan Kuningan, jadi wilayah ini dikepalai oleh seorang lurah. Sebagai aparatur negara lurah dibantu oleh kepala dusun, aparatur kelurahan dan hansip. Satu dusun atau kampung biasanya merupakan satu RW (Rukun Warga) yang membawahi beberapa RT (Rukun Tetangga). RW dipimpin oleh Ketua RW dan RT dipimpin oleh Ketua RT.

3. Geografis

Wilayah kelurahan Cijoho didominasi oleh dataran yang rata sedikit berkontur. Keadaan iklim kelurahan Cijoho dipengaruhi oleh iklim tropis dan angin muson, dengan temperatur bulanan berkisar antara 18° C – 32° C serta curah hujan berkisar antara 2.000 mm – 2.500 mm per tahun. Pergantian musim terjadi antara bulan November – Mei adalah musim hujan dan antara bulan Juni – Oktober adalah musim kemarau.

4. Perbatasan

  •     Di sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Kramatmulya.
  •     Di sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Purwawinangun.
  •     Di sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Kuningan.
  •     Di sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Ciporang.

5.  Ekonomi

Orang-orang kelurahan Cijoho dikenal sebagai pebisinis ulung. Banyak diantaranya yang berdagang di Pasar Baru Kuningan, dari mulai toko kelontong, sampai makanan. Hanya kurang dari separuhnya yang berprofesi sebagai petani.

6. Pertanian

Seperti daerah lainnya di Kuningan, kebanyakan pertanian yang berkembang adalah tanaman padi dan palawija.

7. Perkebunan

Hasil perkebunan yang biasanya dibudidayakan kebanyakan dari jenis buah-buahan seperti:pisang, mangga, rambutan dan juga melinjo.

8. Industri

Di kelurahan Cijoho terdapat industri pembuatan tempe.

9. Demografi

Penduduk kelurahan Cijoho berjumlah 8.892 orang, terdiri dari:

  •     4.588 orang laki-laki
  •     4.304 orang perempuan

100% beragama Islam . Dominasi pekerjaan penduduk Kelurahan Cijoho yaitu sebagai petani, PNS, karyawan, Polisi, TNI, wiraswasta dan sebagainya.

10. Pendidikan

Sekolah dasar yanga ada di kelurahan Cijoho antara lain:

  •     SDN Cijoho I (terletak di Jl. RE . Martadinata )
  •     SDN Cijoho II (terletak di Jl. RE . Martadinata No.166 )
  •     SDN Cijoho III (terletak di Jl. RE . Martadinata No.162 )
  •     SDN Cijoho IV (terletak di Jl. Cut Nyak Dien No.331)
  •     MIS Al-Falah Cijoho (terletak di lingkungan Manis Cijoho)

11. Akses Transportasi

Untuk mencapai kelurahan Cijoho dari pusat kota Kuningan tidaklah sulit, apalagi kelurahan Cijoho terletak di perempatan jalan, sehingga banyak jalur angkot yang melewatinya. Jaraknya dari kota Kuningan kurang lebih 4 km. Kelurahan Cijoho dilewati kendaraan dari arah kota Kuningan ke daerah timur dan ke daerah utara. Ada empat angkutan umum yang melewati jalan raya kelurahan Cijoho yaitu:

  •     angkot 06 jurusan Pasarbaru-Kertawangunan
  •     angkot 10 jurusan Pramuka-Kertawangunan
  •     angkot 03 jurusan Pasarbaru-Cirendang
  •     angkot 04 jurusan Pramuka-Cirendang
Oleh: yellowcity | September 21, 2008

Citangtu

Citangtu adalah nama salah satu kelurahan di kecamatan Kuningan, kabupaten Kuningan, propinsi Jawa Barat.

1. Etimologi

Masjid Citangtu

Masjid Citangtu

Citangtu berasal dari dua kata Ci dan tangtu, ci berasal dari bahasa Sunda yaitu kata cai artinya air, sedangkan tangtu artinya pasti. Sehingga dapat diartikan bahwa di daerah ini air pasti akan selalu ada baik musim hujan maupun musim kemarau.

2. Pemerintahan

Citangtu adalah salah satu kelurahan di kecamatan Kuningan, jadi wilayah ini dikepalai oleh seorang lurah. Sebagai aparatur negara lurah dibantu oleh kepala dusun, aparatur kelurahan dan hansip. Satu dusun atau kampung biasanya merupakan satu RW (Rukun Warga) yang membawahi beberapa RT (Rukun tetangga). RW dipimpin oleh Ketua RW dan RT dipimpin oleh Ketua RT.

3.Geografis

Kelurahan Citangtu dilewati oleh sungai Surakatiga dan Cisanggarung. Wilayah kelurahan Citangtu berbukit-bukit sehingga cocok untuk daerah perkebunan. Keadaan iklim kelurahan Citangtu dipengaruhi oleh iklim tropis dan angin muson, dengan temperatur bulanan berkisar antara 18° C – 32° C serta curah hujan berkisar antara 2.000 mm – 3.000 mm per tahun. Pergantian musim terjadi antara bulan November – Mei adalah musim hujan dan antara bulan Juni – Oktober adalah musim kemarau.

4. Perbatasan

  1. Di sebelah utara berbatasan dengan kelurahan Winduhaji dan Desa Karangtawang
  2. Di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Cibinuang
  3. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Cibinuang dan Kelurahan Kuningan
  4. Di sebelah timur berbatasan dengan Desa Karangtawang dan Kecamatan Garawangi

5. Pertanian

Orang-orang Citangtu dikenal sebagai petani yang ulet. Hampir seluruh masyarakat Citangtu menanam gadung terutama dengan cara tumpang sari. Tanaman pokoknya adalah palawija, karena tanah yang dimiliki oleh warga setempat bukan areal pesawahan teknis namun huma. Misalnya, satu lahan huma bisa ditanami beberapa jenis tanaman seperti singkong, ubi jalar, padi ketan, kacang-kacangan serta gadung.

6. Perkebunan

Hasil perkebunan yang biasanya dibudidayakan kebanyakan dari jenis buah-buahan seperti: pisang, mangga, rambutan dan yang terutama dan terbanyak adalah melinjo.

7. Demografi

Penduduk kelurahan Citangtu berjumlah 4.905 orang, terdiri dari:

  •     2.531 orang laki-laki
  •     2.374 orang perempuan

80% beragama Islam dan sisanya beragama Kristen terutama di Dusun Talahab. Sektor pertanian mendominasi pekerjaan penduduk Kelurahan Citangtu sekitar 70%, lainya bekerja sebagai pedagang, PNS, buruh bangunan, karyawan, wiraswasta dan sebagainya.

9. Pendidikan

Sekolah dasar yanga ada di kelurahan Citangtu antara lain:

  •     SDN Citangtu I (terletak di Jl. S. Kucit No. 85)
  •     SDN Citangtu II (terletak di Dusun Wangun)
  •     SDN Citangtu III (terletak di Dusun Talahab)
  •     SDN Citangtu IIV (terletak di Rt.13 /3 Citangtu)

10. Kesenian

Jenis kesenian yang berkembang di desa Citangtu yaitu seni Reog Angklung.

11.  Tokoh

  •     Mohamad Surya
  •     Kol.Laut (Purn) Soepardi

12. Akses Transportasi

Tidak terlalu sulit untuk mencapai kelurahan Citangtu dari pusat kota Kuningan yang hanya berjarak 2 km. Selain tersedia angkutan penumpang umum, juga banyak tersedia angkutan ojeg yang beroperasi selama 24 jam.

Oleh: yellowcity | September 20, 2008

Cibinuang

Cibinuang adalah desa di kecamatan Kuningan, kabupaten Kuningan, propinsi Jawa Barat, Indonesia.

1. Etimologi

Cibinuang berasal dari dua kata yaitu Ci dan binuang, ci berasal dari bahasa Sunda yaitu kata cai artinya air, sedangkan binuang bukan merupakan kata dalam bahasa Sunda.

2. Pemerintahan

Cibinuang adalah sebuah desa, jadi wilayah ini dikepalai oleh seorang kepala desa atau kuwu. Sebagai aparatur negara kuwu dibantu oleh kepala dusun, aparatur kelurahan dan hansip. Satu dusun atau kampung biasanya merupakan satu RW (Rukun Warga) yang membawahi beberapa RT (Rukun Tetangga). RW dipimpin oleh Ketua RW dan RT dipimpin oleh Ketua RT.

3. Profil Daerah

 Batas Wilayah

Batas wilayah desa Cibinuang

  •     Di sebelah utara berbatasan dengan kelurahan Kuningan.
  •     Di sebelah selatan berbatasan dengan desa Longkewang.
  •     Di sebelah barat berbatasan dengan desa Windujanten.
  •     Di sebelah timur berbatasan dengan kelurahan Citangtu.

 Geografis

Wilayah desa Cibinuang berbukit – bukit. Keadaan iklim desa Cibinuang dipengaruhi oleh iklim tropis dan angin muson, dengan temperatur bulanan berkisar antara 18° C – 32° C serta curah hujan berkisar antara 2.000 mm – 3.000 mm per tahun. Pergantian musim terjadi antara bulan November – Mei adalah musim hujan dan antara bulan Juni – Oktober adalah musim kemarau.

4. Ekonomi

Orang-orang desa Cibinuang dikenal sebagai pebisinis ulung. Banyak diantaranya yang berdagang di Pasar Baru Kuningan, dari mulai toko kelontong, sampai makanan. Hanya kurang dari separuhnya yang berfrofesi sebagai petani.

5. Pertanian

Seperti daerah lainnya di Kuningan kebanyakan pertanian yang berkembang adalah tanaman padi dan palawija.

6. Perkebunan

Hasil perkebunan yang biasanya dibudidayakan kebanyakan dari jenis buah-buahan seperti:pisang, mangga, rambutan dan juga melinjo.

7. Demografi

Penduduk desa Cibinuang berjumlah 2.869 orang, terdiri dari:

  •     1.443 orang laki-laki
  •     1.426 orang perempuan

100% beragama Islam . Dominasi pekerjaan penduduk Desa Cibinuang yaitu sebagai petani, PNS , wiraswasta dan sebagainya

Kode Pos 45511

8.Pendidikan

Sekolah dasar yanga ada di desa Cibinuang antara lain:

  •     SDN Cibinuang I (terletak di Dusun Puhun)
  •     SDN Cibinuang II (terletak di Jl.Desa Cibinuang)

9. Akses Transportasi

Karena wilayahnya berbukit untuk mencapai desa Cibinuang dari pusat kota Kuningan agak sulit. Jaraknya dari kota Kuningan kurang lebih 2 km. Desa Cibinuang dilewati kendaraan angkutan desa.

Oleh: yellowcity | September 20, 2008

Ciporang

Ciporang adalah kelurahan di kecamatan Kuningan, kabupaten Kuningan, propinsi Jawa Barat, Indonesia.

1. Etimologi

Mesjid Perumnas Ciporang

Ciporang berasal dari dua kata yaitu Ci atau cai dalam bahasa Sunda berarti air dan kata porang. Di Kabupaten Kuningan ada dua desa yang bernama Ciporang, satu lagi berada di Kecamatan Maleber karena berada di sebelah timur, maka untuk membedakannya di sebut Ciporang Wetan.

 

 

2. Pemerintahan

Ciporang adalah salah satu kelurahan di kecamatan Kuningan, jadi wilayah ini dikepalai oleh seorang lurah. Sebagai aparatur negara lurah dibantu oleh kepala dusun, aparatur kelurahan dan hansip. Satu dusun atau kampung biasanya merupakan satu RW (Rukun Warga) yang membawahi beberapa RT (Rukun Tetangga). RW dipimpin oleh Ketua RW dan RT dipimpin oleh Ketua RT.

3. Geografis

Wilayah kelurahan Ciporang berupa dataran rata yang sedikit berkontur. Letaknya yang strategis membuat kelurahan Ciporang dijadikan pengembangan pemukiman penduduk Kuningan dengan adanya Perumnas Ciporang. Keadaan iklim kelurahan Ciporang dipengaruhi oleh iklim tropis dan angin muson, dengan temperatur bulanan berkisar antara 18° C – 32° C serta curah hujan berkisar antara 2.000 mm – 2.500 mm per tahun. Pergantian musim terjadi antara bulan November – Mei adalah musim hujan dan antara bulan Juni – Oktober adalah musim kemarau.

4. Perbatasan

  •     Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Kedungarum.
  •     Di sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Windusengkahan.
  •     Di sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Cijoho.
  •     Di sebelah timur berbatasan dengan Desa Ancaran.

5. Ekonomi

Orang-orang kelurahan Ciporang dikenal sebagai pebisinis ulung, karena masih termasuk wilayah kota di pinggir jalan banyak berdiri ruko-ruko, salon, warnet dan toserba serta jenis usaha lainnya. Rumah Sakit Wijaya Kusumah dan Perumnas yang masih terletak di kelurahan Ciporang memberi andil cukup besar terhadap perkembangan wilayah ini.

6. Pertanian

Seperti daerah lainnya di Kuningan kebanyakan pertanian yang berkembang adalah tanaman padi dan palawija.

7. Perkebunan

Hasil perkebunan yang biasanya dibudidayakan kebanyakan dari jenis buah-buahan seperti: pisang, mangga, rambutan dan juga melinjo.

8. Demografi

Penduduk kelurahan Ciporang berjumlah 6.712 orang, terdiri dari:

  •     3.313 orang laki-laki
  •     3.399 orang perempuan

Penduduk Ciporang cukup majemuk karena terdapat perumahan (Perumnas) yang ditempati oleh penduduk yang berasal dari luar kota dan berbagai wilayah di Kuningan. 95% beragama Islam dan lainnya beragama Kristen. Dominasi pekerjaan penduduk Kelurahan Ciporang cukup bervariasi dari mualai PNS, wiraswasta, Karyawan, TNI, Polisi, pedagang, petani dan sebagainya.

9. Pendidikan

Sekolah dasar yanga ada di kelurahan Ciporang antara lain:

  •     SDN Ciporang I (terletak di Jl. RE . Martadinata )
  •     SDN Ciporang II (terletak di Blk. Kantor BAPPEDA )
  •     SDN Ciporang III (terletak di Jl. Mawar Raya )

10. Kesenian

Jenis kesenian yang berkembang di kelurahan Ciporang yaitu Longser Sandiwara Sunda

11. Akses Transportasi

Untuk mencapai kelurahan Ciporang dari pusat kota Kuningan tidaklah sulit. Jaraknya dari kota Kuningan kurang lebih 4 km. kelurahan Ciporang dilewati kendaraan dari arah kota Kuningan ke daerah timur seperti Luragung , Lebakwangi, Cidahu, Cibingbin dan Ciawigebang. Ada dua angkutan umum yang melewati jalan raya kelurahan Ciporang yaitu:

  •     angkot 06 jurusan Pasar baru-Kertawangunan
  •     angkot 10 jurusan Pramuka-Kertawangunan
Oleh: yellowcity | September 18, 2008

Ancaran

Ancaran adalah desa di kecamatan Kuningan, kabupaten Kuningan, propinsi Jawa Barat, Indonesia.

1. Etimologi

Ancaran berasal dari kata ancar yang mendapat akhiran an

2. Pemerintahan

Ancaran adalah salah satu desa di kecamatan Kuningan. Pada dasarnya status pemerintahan Desa Ancaran bisa ditingkatkan menjadi Kelurahan, mengingat di desa Ancaran banyak terdapat perkantoran pemerintah termasuk gedung DPRD, dan letaknya yang masih masuk ke dalam akses batas kota. Namun karena keinginan warganya yang ingin status Ancaran tetap menjadi sebuah desa, maka sampai sekarang Ancaran belum bisa dijadikan Kelurahan. Desa ancaran dipimpin oleh seorang Kepala desa atau Kuwu. Sebagai aparatur negara, Kuwu dibantu oleh kepala dusun, pamong desa dan hansip. Satu dusun atau kampung biasanya merupakan satu RW (Rukun Warga) yang membawahi beberapa RT (Rukun tetangga). RW dipimpin oleh Ketua RW dan RT dipimpin oleh Ketua RT.

Desa Ancaran terdiri dari 5 Dusun/Kampung, 6 RW dan 30 RT sebagai berikut:

  •     Dusun Manis (RW 01 terdiri dari 5 RT),
  •     Dusun Pahing (RW 02 terdiri dari 5 RT),
  •     Dusun Puhun (RW 03 terdiri dari 6 RT),
  •     Dusun Wage (RW 04 terdiri dari 5 RT),
  •     Dusun Bojong (RW 05 terdiri dari 5 RT dan RW 06 Blok Kavling 4 RT).

3. Profil Daerah

Batas Wilayah

Batas wilayah desa Ancaran

Di sebelah utara berbatasan dengan desa Cikubangsari Kecamatan Kramatmulya .
Di sebelah selatan berbatasan dengan desa Sindangsari Kecamatan Sindangagung.
Di sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Ciporang Kecamatan Kuningan.
Di sebelah timur berbatasan dengan desa Sindangagung Kecamatan Sindangagung.

Geografis

Wilayah desa Ancaran berbukit – bukit. Keadaan iklim desa Ancaran dipengaruhi oleh iklim tropis dan angin muson, dengan temperatur bulanan berkisar antara 18° C – 32° C serta curah hujan berkisar antara 2.000 mm – 2.500 mm per tahun. Pergantian musim terjadi antara bulan November – Mei adalah musim hujan dan antara bulan Juni – Oktober adalah musim kemarau.

Ekonomi

Orang-orang desa Ancaran dikenal sebagai pebisinis ulung, banyak diantaranya yang berdagang di Pasar Baru Kuningan, Pasar Cilimus dan sampai keluar Kuningan terutama jenis konveksi.

Pertanian

Seperti daerah lainnya di Kuningan kebanyakan pertanian yang berkembang adalah tanaman padi dan palawija.

Perkebunan

Hasil perkebunan yang biasanya dibudidayakan kebanyakan dari jenis buah-buahan seperti:pisang, mangga, rambutan dan juga melinjo.

Demografi

Penduduk desa Ancaran berjumlah 7.796 orang, terdiri dari:

  •     3.970 orang laki-laki
  •     3.826 orang perempuan

Mayoritas penduduk Desa Ancaran bermatapencaharian berdagang dan bertani, mereka berdagang pakaian ke luar propinsi, sebagian besar di propinsi Jawa Tengah dan Jawa timur seperti di Magelang, Cepu, Bojonegoro, Jember, dan lain-lain. Ada pula yang berdagang ke Lampung dan Kalimantan.

Penduduk Desa Ancaran adalah penduduk yang sangat dekat dengan Agama Islam. Ada hal yang antik dari Ancaran yaitu meski masuk dalam lingkungan kota, tetap Desa Ancaran men-tabu-kan yang namanya speaker masuk dalam lingkungan ibadah keagaamaan seperti untuk adzan, makanya tidak akan ditemukan speaker di Mesjid Jami Desa Ancaran.

Kode Pos 45514

4. Kesenian

Gembyung merupakan seni khas dari Desa Ancaran, maka tak heran jika banyak berdiri Group kesenian Gembyung di desa ini.

5. Pendidikan

Sangat disayangkan kesadaran terhadap pentingnya pendidikan formal di desa Ancaran masih sangat kurang. Walaupun akhir-akhir ini semakin meningkat, namun masih kalah jauh bila dibandingkan dengan desa-desa lain di sekitarnya.Namun demikian kekurangan pendidikan formal tersebut di imbangi kelebihannya dalam pendidikan informal(pendidikan pesantren), hampir 90% warganya pernah mengenyam pendiidkan di pesantren tradisional. Desa Benda yang berada di kab. Cirebon merupakan salah satu daerah yang banyak di tuju oleh sebagian besar warga Ancaran untuk mengenyam pendidikan pesantren. Rata-rata warga Ancaran mengenyam pendidikan di pesantren setelah lulus dari pendidikan formal setara SD.

Sekolah dasar yang ada di Desa Ancaran antara lain:

  •     SDN Ancaran I (terletak di Jl.Pangairan No.845)
  •     SDN Ancaran II (terletak di Jl.Sindangsari)
  •     SDN Ancaran III (terletak di Jl.Pangairan No.1037)

Selain Sekolah Dasar di Desa Ancaran juga terdapat satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) yaitu :

SMPN 5 Kuningan (terletak di Jl. Perjuangan sebelah Utara Kantor Pengadilan Agama Kuningan)

6. Akses transportasi

Untuk mencapai desa Ancaran dari pusat kota Kuningan tidaklah sulit, karena di desa Ancaran juga terdapat terminal. Jaraknya dari kota Kuningan kurang lebih 4 km. Desa Ancaran dilewati kendaraan dari arah kota Kuningan ke daerah timur seperti Luragung, Lebakwangi, Cidahu, Cibingbin dan Ciawigebang. Ada tiga angkutan umum yang melewati jalan raya Ancaran yaitu:

  •     angkot 06 jurusan Pasar baru-Kertawangunan
  •     angkot 10 jurusan Pramuka-Kertawangunan
  •     angkot jurusan Padamenak – Kertawangunan

Selain itu pula dilewati oleh Bus Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) seperti Keluarga Luragung Jaya, Setianegara, Sahabat dengan jurusan Kuningan – Jakarta. Bus Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP)seperti Bus DAMRI dengan jurusan Kuningan – Bandung, dan Bus Karunia Jurusan Kuningan – Cikijing – Bandung.

Oleh: yellowcity | September 18, 2008

Awirarangan

Awirarangan adalah kelurahan di kecamatan Kuningan, kabupaten Kuningan, propinsi Jawa Barat, Indonesia.

1. Etimologi

Masjid Al Muttaqin Awirarangan

Masjid Al Muttaqin Awirarangan

Secara etimologi Awirarangan berasal dari dua kata yaitu awi dalam bahasa Sunda berarti bambu dan kata rarangan berarti larangan atau pantangan. Namun adapula yang menyebutkan bahwa suku kata “Wi” pada kata Awirarangan merupakan  kependekan dari kata “Wiwitan”  berarti yang paling awal, terdahulu, pemula, pertama, jati, asal atau pokok. Hal ini dikarenakan Awirarangan dipercaya merupakan salah satu daerah yang paling awal dihuni oleh masyarakat Sunda sejak jaman kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi. Daerah yang awalnya berupa hutan belantara dibuka dan mulai dihuni oleh para Abdi Dalem Prabu Siliwangi. Mereka adalah Eyang Weri Kusuma, Karanginan, Karang Asem, Singa Merta, Singa Dinata, Buyut Kentuy, Buyut Kenayu, Buyut Empang dan Eyang Tarik Kolot. Hal ini terbukti dari kuburan, kabuyutan atau petilasan mereka yang sebagian berada di wilayah Awirarangan dan dianggap keramat oleh masyarakat sekitar.

Karena daerah ini sudah ada sejak dulu, maka terdapat beberapa pantangan/larangan yang  dianggap tabu/pamali untuk dilakukan seperti bersiul, meniup seruling, makan sambil jongkok, menganggap pertunjukan wayang golek dan lain-lain. Apabila ada masyarakat melanggar larangan tersebut maka dipercaya akan terjadi malapetaka bagi orang tersebut. Karena merupakan daerah yang pertama di huni  dan banyaknya larangan di daerah ini maka daerah ini disebut Awirarangan.

2. Pemerintahan

Awirarangan adalah salah satu kelurahan di kecamatan Kuningan, jadi wilayah ini dikepalai oleh seorang lurah. Sebagai aparatur negara lurah dibantu oleh kepala dusun, aparatur kelurahan dan hansip. Satu dusun atau kampung biasanya merupakan satu RW (Rukun Warga) yang membawahi beberapa RT (Rukun tetangga). RW dipimpin oleh Ketua RW dan RT dipimpin oleh Ketua RT. Kantor kelurahan berlokasi di Jl. Jend. Sudirman ke arah kelurahan Winduhaji.

3. Geografi

Wilayah kelurahan Awirarangan sedikit berkontur dan cenderung rata. Keadaan iklim kelurahan Awirarangan dipengaruhi oleh iklim tropis dan angin muson, dengan temperatur bulanan berkisar antara 18° C – 32° C serta curah hujan berkisar antara 2.000 mm – 2.500 mm per tahun. Pergantian musim terjadi antara bulan November – Mei adalah musim hujan dan antara bulan Juni – Oktober adalah musim kemarau.

Perbatasan

  1. Di sebelah utara berbatasan dengan kelurahan Cijoho.
  2. Di sebelah selatan berbatasan dengan kelurahan Citangtu.
  3. Di sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Kuningan.
  4. Di sebelah timur berbatasan dengan kelurahan Winduhaji.

4. Ekonomi

Orang-orang kelurahan Awirarangan banyak diantaranya yang berprofesi sebagai pedagang di Pasar Baru Kuningan, dari mulai toko kelontong, daging segar , pakaian, furniture sampai makanan. Hanya kurang dari separuhnya yang menjadi petani.

5. Pertanian

Seperti daerah lainnya di Kuningan, kebanyakan pertanian yang berkembang adalah tanaman padi dan palawija.

6. Perkebunan

Tidak banyak hasil perkebunan yang berasal dari kelurahan Awirarangan, karena hampir 80% wilayahnya merupakan pemukiman penduduk. Kelurahan Awirarangan dikenal sebagai daerah pemukiman terpadat di Kuningan. Hasil perkebunan biasanya berasal dari pekarangan rumah seperti:pisang, mangga dan rambutan.

7. Demografi

Penduduk kelurahan Awirarangan berjumlah 9.175 orang, terdiri dari:

  •     4.543 orang laki-laki
  •     4.632 orang perempuan

95% beragama Islam yang lainnya beragama Kristen dan Budha. Dominasi pekerjaan penduduk Kelurahan Awirarangan yaitu sebagai petani, PNS , wiraswasta dan sebagainya.

8. Pendidikan

Sekolah dasar yanga ada di kelurahan Awirarangan antara lain:

  •     SDN Awirarangan I (terletak di Jl. Eyang Weri No. 11)
  •     SDN Awirarangan II (terletak di Jl. Eyang Weri No. 11)
  •     SDN Awirarangan III (terletak di Jl. Jend. Sudirman No. 117)
  •     SDN Awirarangan IV (terletak di Jl. Eyang Weri )

9. Kesenian

Jenis Kesenian yang khas dan berkembang di kelurahan Awirarangan yaitu :

  •     pantun buhun (45% Penduduk Awirarangan masih menguasai)
  •     Pencak Silat Cimande (80% penduduknya terutama pemuda & pemudinya menguasai ilmu seni bela diri tersebut)

10. Adat Istiadat

Dalam perkembangannya Awirarangan termasuk daerah perkotaan sehingga adat yang dimiliki oleh daerah Awirarangannya sendiri sudah mulai terkikis dengan perkembangan zaman dan akibat pengaruh globalisasi kependudukan sehingga adat istiadat yang sekarang sudah tercampur. Apalagi ada diantaranya yang sudah hilang dan tidak dikenal lagi oleh generasi-generasi muda sekarang.
Adapun adat istiadat Awirarangan yang sudah hilang diantaranya :

  • Sabumi atau Hajat Sura,  yaitu berdoa bersama di tanah lapang/di tempat terbuka untuk memohon  keselamatan. Sabumi/Hajat Sura ini selalu diadakan setiap bulan Sura atau Muharram. Sekarang adat istiadat ini sudah tidak dikenal oleh generasi-generasi muda namun  hanya orang tua terdahulu yang masih melakukan adat istiadat ini.
  • Ngujuban atau Hajat Kliwon merupakan permohonan doa oleh pribadi seseorang/keluarga tertentu yang dilakukan setiap malam jumat kliwon. Selain doa yang dipanjatkan ada juga sesajen yang disediakan untuk dinikmati oleh keluarganya sendiri setelah acara ngujuban itu selesai. Sekarang adat istiadat ini sudah tidak dikenal oleh generasi-generasi muda namun  hanya orang tua terdahulu yang masih melakukan adat istiadat ini dan orang-orang yang masih memegang kepercayaan tersebut.
  • Muput atau Nebus Weteng yaitu pengasapan bagi wanita yang baru melahirkan.
  • Busaran yaitu upacara meratakan gigi dengan diiringi bagi anak yang menjelang akil baligh.
  • Memeongan merupakan adat istiadat yang dilakukan apabila ada seorang adik yang melangkahi kakanya untuk menikah duluan di dalam satu keluarga.
  • Bobotan yaitu upacara adat yang dilakukan kepada bayi yang lahir di bulan Safar. Proses bobotan sama seperti proses pertimbangan berat badan bayi tetapi bobotan ini penimbangan bayi beserta harta benda. Semakin berat badan bayi semakin banyak pula harta benda yang harus dikeluarkan. Biasanya hasil dari bobotan tersebut disedekahkan kepada fakir miskin dengan tujuan menghilangkan bala bagi si bayi yang baru lahir.

Adapun adat istiadat Awirarangan yang masih ada sampai sekarang diantaranya :

  • Babarit
  • Nyungsung merupakan persembahan sesajen ke tempat keramat oleh warga yang akan  melaksanakan hajat.
  • Rendengan Pengantin merupakan prosesi adat pengantin
  • Ngabarangsang yaitu membakar cabe dan garam bagi mereka yang akan melaksanakan hajat. 

11. Akses transportasi

Kelurahan Awirarangan terletak dekat dengan Pasar baru sehingga seluruh angkot yang ke Pasar baru melewati jalan kelurahan Awirarangan. Ada beberapa angkutan umum yang melewati jalan raya kelurahan Awirarangan yaitu:

  •     angkot 01 jurusan Pasar baru-Kadugede
  •     angkot 03 jurusan Pasar baru-Cirendang
  •     angkot 06 jurusan Pasar baru-Kertawangunan
  •     angkot 07 jurusan Pasar baru-Lengkong
Oleh: yellowcity | September 17, 2008

URBANISASI MASYARAKAT KUNINGAN

Urbanisasi merupakan suatu masalah yang kompleks baik itu ditinjau dari daerah yang ditinggalkan maupun daerah yang didatangi oleh kaum urban. Kuningan sebagai salah satu kota kecil di Jawa Barat tentunya tidak banyak memberikan pilihan pekerjaan dan kesempatan bagi para penduduknya. Selain akses pendidikan ke level yang lebih tinggi yang juga terbatas. Sehingga hal ini mendorong banyak penduduk Kuningan untuk mengadu nasib di kota besar.

Sejarah mencatat bahwa penduduk Kuningan sudah terbiasa untuk merantau ke daerah lain. Hal ini terbukti dari migrasi secara besar-besaran pertama yang dipimpin oleh Dipati Ewangga ke Jakarta. Walaupun tujuan utamanya untuk membantu Cirebon menyerang pelabuhan Sunda Kelapa, namun akhirnya prajurit-prajurit asal Kuningan memiih menetap disana dan mendirikan perkampungan yang bernama Kuningan juga. Sehingga di Jakarta ada tempat bernama Kuningan yang sekarang menjadi salah satu sentra bisnis di selatan Jakarta.

Kemudian pada tahun 1930-an banyak penduduk Kuningan mulai tertarik merantau ke Sumatera dan Kalimantan untuk bekerja di perusahaan pertambangan minyak bumi dan di areal perkebunan. Palembang dan Medan menjadi tempat favorit warga Kuningan untuk bekerja disektor perkebunan terutama perkebunan kelapa sawit dan karet. Sejak saat itulah dimulainya migrasi penduduk Kuningan keseluruh penjuru Nusantara bahakan sampai ke luar negeri dengan jumlah yang cukup besar.

Sejak tahun 1950-an petani dari daerah pedesaan Kuningan banyak juga yang ikut merantau ke kota-kota besar di pulau Jawa, seperti Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, terutama ke ibukota Jakarta. Hal ini diakibatkan karena terjadi gagal panen, meningkatnya jumlah penduduk dan juga terjadi gangguan keamanan oleh gerombolan pemberontak DI/TII pimpinan Kartosuwiryo.

Pada generasi berikutnya, para perantau itu (sejak tahun 1970-an) tampak mulai berhasil dalam kehidupan di perantauan baik dalam bidang ekonomi, pendidikan maupun sosial politik. Hal itu besar pengaruhnya terhadap kesejahteraan kehidupan masyarakat Kuningan. Sehingga, tingkat urbanisasi dan mobilitas penduduk Kuningan pun menjadi cukup tinggi.

Dewasa ini kebanyakan perantau asal Kuningan bekerja di sektor perdagangan, seperti manjadi penjual jamu, rokok, indome rebus, buah dingin, bubur kacang ijo dan sebagainya. Bahkan di Yogyakarta bila tahu kita berasal dari Kuningan yang terlintas pertama kali dipikran mereka pasti tukang bubur kacang ijo. Karena mayoritas pedagangnya berasal dari Kuningan. Namun banyak pula yang sukses disektor pendidikan dengan menjadi akademisi bahkan Guru Besar di Universitas terkemuka seperti UI, Unpad dan UPI contohnya seperti Anies Baswedan, Edi Suhardi Ekajati, Muhammad Surya, Eman Suparman dan Mohammad Arsad Anwar. Adapula yang sukses di pemerintahan dan militer dengan menduduki beberapa posisi strategis. Demikan halnya dengan dunia hiburan ada beberapa  Artis kelahiran Kuningan dan berdarah Kuningan seperti Sam Bimbo dan Maudy Koesnaedi.

Diaspora warga Kuningan memang terus terjadi, bahkan sudah terpatri di benak para generasi muda Kuningan bahwa suatu saat mereka harus merantau pergi keluar dari kampungnya untuk mencari makna kehidupan hingga kelak waktu akan memanggilnya kembali ke tanah kelahiran.

Pepeling Ema

Bral geura miang anaking

Mun hidep rek diajar dewasa

Neang hirup sangkan jadi jalma

Geura beberkeun  layar kaheman

Ngumbara miang neang elmu

Sangkan leber wawanen jeung wijaksana

Oleh: yellowcity | September 17, 2008

Masa Kerajaan Kuningan

Di samping artefak pra-sejarah di Kabupaten Kuningan ditemukan pula benda-benda budaya yang berasal dari zaman awal sejarah yang bercirikan pengaruh budaya Hindu. Benda-benda budaya yang dimaksud adalah lingga, yoni, patung, candi, cincin mas, anting-anting, mata uang dan jembangan Cina yang ditemukan di bukit Sangiang (desa Sagarahyang, kecamatan Nusaherang) desa Cimara kecamatan Cibingbin, dan kecamatan Subang. Benda-benda budaya tersebut merupakan peniggalan masyarakat beragama Hindu. Sekarang benda-benda dari zaman pra-sejarah dan zaman sejarah tersebut diatas sebagian disimpan di museum Taman Purbakala Cipari (Cigugur), sebagian menjadi koleksi Museum Nasional di Jakarta, dan sebagian lagi tetap berada dilokasi penemuannya.

Masa awal sejarah Kuningan diperkuat dan dilengkapi oleh keterangan dari sumber tertulis berupa naskah Sunda Kuna, yaitu tulisan tangan pada daun lontar. Naskah dimaksud adalah Carita Parahyangan, Fragmen Carita Parahyangan dan naskah-naskah Pangeran Wangsakerta. Dua naskah pertama disusun pada akhir abad ke-16 dengan menggunakan aksara dan bahasa Sunda kuna. Selain itu tradisi lisan setempat (legenda) pun menyisakan keterangan mengenai hal yang sama.

Setelah kerajaan Tarumanegara turun dari panggung sejarah pada akhir abad ke-7 Masehi, di tanah Sunda muncul beberapa kerajaan kecil antara lain Sunda, Kendan, Galuh, Galungung, Kuningan dan Indraparahasta. Wilayah kerajaan Sunda terletak di bagian barat Tanah Sunda dengan ibukota di Pakuan Pajajaran (sekitar kota Bogor sekarang). Kendan terletak sekitar Nagreg, bagian timur Kabupaten Bandung. Wilayah Galuh berada di timur tanah Sunda dengan pusatny di Bojonggaluh (sekarang termasuk ke wilayah Kabupaten Ciamis). Galunggung terletak di sekitar lereng Gunung Galungung, Tasikmalaya sekarang. Indraparahasta berada di pedalaman Cirebon di bagian timur laut kaki Gunung Ciremai. Kuningan berada didaerah Kabupaten Kuningan sekarang, terletak antara Galuh dan Indraparahasta. Dalam perkembangannya Sunda dan Galuh dapat tampil sebagai kerajaan besar dengan Sungai Citarum yang menjadi batas antara kedua kerajaan tersebut. Walaupun demikian kerajaan kecil lainnya masih tetap hidup, meski kekuasaan dan perananya lebih kecil.

Untuk pertama kalinya diketahui kerajaan Kuningan diperintah oleh seorang raja bernama Sang Pandawa atau Sang Wiragati. Raja ini memerintah sezaman dengan masa pemerintahan Sang Wretikandayun (612-702 M), pendiri kerajaan Galuh. Sang Pandawa mempunyai seorang puteri bernama Sangkari. Pada tahun 671 M puteri ini menikah dengan Demunawan, putera Danghiyang Guru Sempakwaja, seorang resi guru di Galunggung. Resiguru adalah sebutan bagi raja yang dalam pengetahuan dan kehidupannya cenderung bersifat keagamaan. Wilayahnya pun tergolong sebagai sebuah kabuyutan atau mandala, yaitu daerah khusus tempat kegiatan keagamaan Hindu, termasuk pendidikan keagamaan Hindu. Danghyang Guru Sempakwaja adalah putera tertua Sang Wretikandayun, raja pertama Galuh. Demunawan inilah yang disbutkan dalam tradisi lisan setempat di Kuningan memiliki ajian Dangiang Kuning dan menganut agama Sanghiyang. Kiranya yang dimaksud dengan agama Sanghiyang ini adalah hasil sinkritisme antara kepercayaan terhadap arwah nenek moyang dengan agama Hindu. Hal ini dapat dipahami karena dia putera seorang Resiguru.

Walaupun Kuningan merupakan kerajaan kecil, namun kedudukannya cukup kuat dan kekuatan militernya cukup tangguh, hal ini terbukti dengan kekalahan yang diderita oleh pasukan Sanjaya (raja Galuh) ketika menyerang Kuningan. Kedatangan Sanjaya beserta pasukannya ke Kuningan atas permintaan Danhyang Guru Sempakwaja, besan Sang Pandawa, dengan maksud untuk memberi pelajaran terhadap Sanjaya yang bersikap pongah dan merasa diri paling kuat. Sanjaya adalah cicit Sang Wretikandayun, melalui puteranya Sang Mandiminyak. Sang MAndiminyak memerintah di Galuh tahun 703-710 M. Ia digantikan oleh puteranya Sang Senna (710-717 M). Sang Senna memerintah Sunda dan Galuh (723-732 M) serta Kalingga (sejak 732 M) di Jawa Tengah.

Karena terjadi perebutan kekuasaan di lingkungan keturunan Sang Wretikandayun, maka Sanghyang Guru Sempakwaja sebagai orang tertua dan disegani, mengambil langkah-langkah dan kebijakan untuk mendamaikan pihak-pihak yang berkonflik. Terhadap kerajaan Kuningan kebijakan tersebut adalah mengangkat Sang Pandawa menjadi Guru Haji (resiguru) di Layuwatang sedangkan kedudukannya di Kuningan di gantikan Demunawan dengan gelar Rahiyangtang Kuku pada tahun 723. Wilayah kerajaannya ditambah dengan Galunggng. Guruhaji adalah jabatan kepala daerah yang bersifat kehormatan dan keagamaan. Tentu Layuwatang masih berlokasi di wilayah kerajaan Kuningan dengan status mandala atau kabuyutan, walaupun lokasinya belum dapat ditentukan.

Pada masa pemerintahan Rahyangtang Kuku diberitakan bahwa ibukota kerajaan Kuningan ialah Saunggalah. Lokasi Saunggalah diperkiakan berada di sekitar Kampung Salia sekarang termasuk desa Ciherang kecamatan Nusaherang. Dengan ditambah sebagian wilayah Galungung maka keseluruhan wilayah Kuningan menjadi lebih luas menjadi 13 wilayah, meliputi Layuwatang, Kajoran, Kalanggara, Pagerwesi, Rahasea, Kahuripan, Sumajajah, Pasugihan, Padurungan, Darongdong, Pagergunung, Muladarma dan Batutihang.

Peran Danghyang Guru Sempakwaja sebagai juru damai dalam kemelut di lingkungan keturunan Wretikandayun diwarisi pula oleh Demunawan. Pada tahun 739 M atas kebijakan Demunawan tercapai kesepakatan diantara mereka untuk hidup rukun dan membagi wilayah kekuasaan secara turun temurun. Dalamhal ini kekuasaan atas kerajaan Sunda dipegang oleh Sang Kamarasa dan keturunannya yang wilayahnya berlokasi di wilayah barat Sungai Citarum sampai ke Ujung Kulon, kekuasaan atas kerajaan Galuh dipegang oleh Sang Suratoma dan keturunannya yang wilayahnya meliputi bagaian selatan sebelah timur Sungai Citarum. Kekuasaan atas kerajaan Kuningan dengan ibukota Saunggalah diegang oleh Demunawan dan keturunannya yang wilayahnya meliputi bagian utara sebelah timur Sungai Citarum, serta kekuasaan atas Kalingga (di Jawa Tengah) di pegang oleh Sanjaya dan keturunannya. Dalam perkembangan selanjutnya antara KErajaan Galuh dan Kerajaan Sunda terjalin hubungan yang erat melalui hubunga pernikahan dan darah sehingga tempat kedudukan rajanya kadang-kadang di Kerajaan Galuh (Bojonggaluh, Kawali) dan kadang-kadang di Kerajaan Sunda (Pakuan, Pakuan Pajajaran), tergantung tingkat kekuasaan dan keinginan rajanya. Lama kelamaan nama kerajaannya disebut kerajaan Sunda saja.

Keberadaan Saunggalah sebagai pusat pemerintahan terungkap lagi, tatkala Rakeyan Dharmasiksa memerintah disini selam 12 tahun (1163-1175 M). Ia adalah putera dari Prabu Dharmakusuma(1157-1175), Raja Sunda yang berkedudukan di Kawali. Rakeyan Dharmasiksa memerintah di Saunggaluh menggantikan mertuanya, karena ia menikah dengan puteri Saunggalah. Selanjutnya ia diangkat menjadi Raja Sunda dengan gelar Prabu Dharmasiksa (1175-1298). Ia menggantikan ayahnya yang wafat tahun 1175 dan dikebumikan di Winduraja (sekarang nama desa dekat kota Kecamatan Kawali, sekitar 20 km sebelah utara kota Ciamis).

Kedudukan Rakean Dharmasiksa sebagai penguasa Saunggalah digantikan oleh seorang puteranya yang bernama Ragasuci atau Rajapatra. Sebagai penguasa Saunggalah, Ragasuci dijuluki Rahiyang Saunggalah (1175-1298 M). Ragasuci memperistri Dara Puspa, puteri Raja Melayu. Dengan demikan Saunggalah menjalin hubungan keluarga dengan penguasa kerajaan Melayu di Sumatera.

Pada tahun 1298 Ragasuci diangkat menjadi Raja Sunda menggantikan ayahnya dengan gelar Prabu Ragasuci (1298-1304 M). Kedudukannya di Saunggalah digantikan oleh putranya Citragandha. Pada masa kekuasaan Ragasuci Kerajaan Kuningan meliputi wilayah yang dibatasi oleh Cipanglebakan, Geger Gadung, Geger Handiwung dan Pasir Taritih di muara Cipager Jampang. Tapal batas ini masih sulit diidentifikasi dimana letaknya sekarang.

Sebagai kerajaan kecil tentu saja struktur pemerintahan Kerajaan Kuningan sederhana, tidak seperti kerajaan besar. Yang jelas ada jabatan Raja, patih, komandan pasukan militer, pemimpin keagamaan dan kepala daerah di tingkat lebih bawah. Memang tampak sekali bahwa bentuk pemerintahan yang digunakan oleh kerajaan besar di Tanah Sunda (Tarumanegara, Galuh,Sunda) adalah federasi. Kerajaan besar berkedudukan sebagai penguasa pusat(pemerintah federal) yang membawahi kerajaan-kerajaan kecil di daerah. Dalam hal ini kerajaan Kuningan pernah berada di bawah pemerintah pusat dari kerajaan-kerajaan: Tarumanegara, Sunda dan Galuh.

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.