Oleh: yellowcity | September 17, 2008

KESENIAN GOONG RENTENG

Goong renteng adalah salah satu jenis kesenian tradisional di Kabupaten Kuningan yang memiliki keunikan tersendiri karena Goong renteng ini manakala sudah dibunyikan mempunyai arti tesendiri. Dan hanya dibunyikan pada saat-saat menyambut “tamu agung” atau tamu kehormatan yang memasuki lapangan upacara.

Dalam perkembangannya sekarang ini, Goong renteng sewaktu-waktu tampil memeriahkan acara karnaval atau pawai alegoris pada peringatan hari besar nasional, acara hajatan, pesta dan keramaian lainnya sekaligus mengiringi kepergian tamu yang meninggalkan tempat acara. Khususnya dalam acara satonan, Goong renteng sangat diperlukan.

Instrumen Goong Renteng biasanya menyajikan lagu-lagu tradisi, seperti lagu Kebojiro/Papalayon sebagai penghormatan kepada tamu yang akan datang dan pada saat pulang, di susl kemudian lagu pangkur Bale Bandung Besar, Bale Bandung Kecil, Sisisr Ganda, Malang Totog, Sampyong, Tunggul Kawung, Randa Nunut, Rindik Subang, Panglima dan lagu ciptaan sekarang yang bisa disesuaikan.

Dalam upaya melestarikan kesenian Goong Renteng dan berdasarkan adat turun temurun, sebelum bulan Mulud, Goong Renteng itu harus “mandi” artinya dicuci agar tetap bersih, lalu diadakan selamatan sambil menabuhnya. Tradisi lainnya yang biasa dipakai yaitu setiap tanggal 1 Syawal dan 10 Rayagung harus dibunyikan. Sedangkan larangan “karuhun” yang harus dijaga oleh keturunannya yakni tidak boleh menjual Gamelan Goong Renteng itu kepada siapapun. Hasilnya hingga saat ini Gamelan Goong Renteng masih tetap utuh meskipun keadaannya sudah kurang memadai.

Menurut keterangan, Gamelan Kuno yang kini di kenal dengan ” Goong Renteng” teryata usianya sudah 2 abad atau 200 tahun. Pemilik gamelan ini adalah Abah Raksajaya penduduk Kelurahan Sukamulya Kecamatan Cigugur.Gamelan ini dibelinya pada tahun 1792 dari Buyut Anjun Pangeran Pagongan di Cirebon. Gamelannya terbuat dari bahan perunggu terdiri dari 34 buah goong kecil, 2 buah goong besar dilengkapi gambang dan dua buah kecrek perunggu.

Gamelan itu sampai sekarang sempat dipegang oleh lima turunan yakni, Abah Raksajaya, kemudian turun kepada putranya Bangsajaya, terus kepada kakek Markis Raksajaya, kemudian kepada Jayaperwata dan kepada Raksapura. Gamelan kuno ini sejak dulu disebut goong renteng, sebab ada perbedaan dengan pemasangan gamelan yang biasa, yaitu pemasangan rancaknya harus “direntengkan”, itulah sebabnya gamelan kuno yang satu ini disebut goong renteg.

Oleh: yellowcity | September 17, 2008

KUNINGAN ZAMAN PRA SEJARAH

Berdasarkan penemuan benda-benda budaya yang merupakan peninggalan dari zaman purbakala atau zaman pra-sejarah, dapat diketahui bahwa sejak sekitar 4500 tahun yang lalu di daerah Kabupaten Kuningan telah ada kehidupan manusia. Pada masa itu manusia-manusia yang menetap di daerah Kuningan telah mampu mempertahankan dan mengembangkan hidup mereka baik secara perorangan maupun secara berkelompok. Tentu mereka telah memiliki mata pencaharian,sistem kepercayaan, dan organisasi sosial sendiri. Mereka telah bercocok tanam, mempercayai adanya kekuatan gaib pada roh nenek moyang (animisme) dan kepercayaan terhadap benda-benda tertentu (dinamisme). Pemimpin mereka muncul dari kalangan mereka sendiri yang dipandang paling baik (primus interpares). Arwah para pemimpin mereka itulah yang kemudian dijunjung tinggi dan dipuja dalam ritual keagamaan mereka.

Benda-benda budaya yang dimaksud adalah berupa artefak prasejarah seperti beliung persegi, belincung, kapak, peti kubur, patung,gelang, manik-manik, meja, menhir bangunan berundak dan lesung yang semuanya terbuat dari batu; juga periuk, kendi dan mangkuk sayuran yang terbuat dari tanah (gerabah) dengan di beri hiasan ataupun polos; serta kapak kecil yang terbuat dari perunggu (logam). Sebagian benda budaya tersebut ditemukan di atas permukaan tanah, sebagianlagi diperoleh dar hasil penggalian (ekskavasi). Penggalian tersebut antara lain dilakukan oleh Lembaga Purbakala yang kemudian berubah nama menjadi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di desa Cibuntu Kecamatan Mandirancan pada tahun 1967 dan 1971 dan di kampung Cipari desa/kecamatan Cigugur pada tahun 1972. Penemuan lainnya didapatkan di beberapa tempat, terutama di sepanjang lereng timur Gunung Ciremai, seperti Sagarahiang, Cangkuang, Cimara, Subang.

Benda-benda buday tersebut berasal dari:
(1). Zaman kebudayaan batu baru (neoliticum), yaitu zaman tatkala alat-alat hidup manusia terbuat dari batu dan pembuatannya sudah diasah sehingga hasilnya halus dan tajam. serta
(2). Zaman kebudayaan batu besar (megaliticum), yaitu zaman tatkala banyak benda budaya dibuat dari batu berukuran besar.

Pada zaman kebudayaan batu besar ditemukan pula perlengkapan hidup yang terbuat dari logam seperti besi dan perunggu.Kebudayaan batu baru (neoliticum) di daerah ini hidup sekitar 4500-3500 tahun yang lalu (2500-1500 sebelum Masehi) sedangkan kebudayaan batu besar (megaliticum) hidup sesudah zaman itu sampa awal abad pertama Masehi.

Berdasarkan penemuan benda budaya tersebut diatas, lokasi penemuannya umumnya terletak dilereng timur Gunung Ciremai. Dan dari bukti-bukti peninggalannya tampak bahwa manusia pra-sejarah hidup di sekitar sumber air baik berupa mata air alam ataupun berupa aliran sungai. Sumber kehidupan mereka diperoleh dengan memanfaatkan bahan minuman dan bahan makanan yang telah tersedia di alam yang berasal dari tanaman (food gathering) hingga mengolah kekayaan alam itu sendiri (food producing).

Sebagaimana disebutkan diatas bahwa manusia pra-sejarah telah menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, mereka percaya terhadap arwah para leluhur dengan melakukan ritual upacara dengan menyampaikan persembahan dan pemujaan pada waktu-waktu tertentu pada tempat yang telah dipersiapkan oleh mereka. Salah satu tempat upacara ritual itu adalah punden berundak. Yang dimaksud dengan punden berundak disini adalah kompleks bangunan yang disusun secara bertingkat dan dibat dari batu besar yang di dalamnya ada menhir (batu tegak), meja batu, peti batu dan lain sebagainya. Contoh bentuk punden berundak adalah kompleks Taman Purbakala di Cipari.

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »

Kategori