Oleh: yellowcity | Juli 1, 2008

PAGI BUTA DI ALUN-ALUN KOTA KUNINGAN

alun-alunPada musim hujan ini kabut tipis menyelimuti pagi yang dingin menusuk tulang, ayam jago masih enggan berkokok menyambut sang fajar. Siluet merah keemasan muncul di ufuk timur mulai membentuk lingkaran sempurna, mengusir kehadiran Sang Raja Malam yang cahayanya mulai meredup memutih menuju barat. Lampu-lampu anggun bak permata berkelap kelip satu persatu mulai padam, pertanda pertunjukan malam agung akan segera berakhir. Matahari perlahan merekah mengagetkan ayam jago yang hari ini bangun kesiangan. Cahayanya menembus perintang memberi warna dunia yang lebih ceria.

Nikmatnya menghirup kesegaran udara pagi tepat di alun alun kota yang masih sepi. Hanya segelintir mesin penghisap fosil berlalu lalang, mencoba meracuni kesegaran yang baru kurasa. Gunung yang kokoh menjulang tinggi tertutup awan tipis sisa hujan semalam. Gunung itu ada sepasang, bak seorang Ibu yang sedang mendekap mesra anaknya, yang kiri lebih tinggi dan besar sedangkan disebelahnya lebih pendek, namun puncaknya masih utuh membentuk segitiga sempurna. Anggun, tak tampak keperkasaan nan angkuh yang sewaktu-waktu dapat murka, meledak bak bom waktu yang dapat meluluhlantakan daerah ini. Damai dan tenang, kearifan warga lokal menjadikannya bersahabat. Itulah gunung Ciremai. Gunung tertinggi di Tanah Sunda, konon dari puncaknya kita bisa menikmati keindahan kota Kuningan sampai ke Cirebon bahkan melihat kapal-kapal yang sedang berlayar di laut Jawa merapat ke Pelabuhan Cirebon. Alun-alun kota ini tepat berada di kaki gunung ini.

mesjid Mesjid Agung Syiarul Islam berdiri megah dihadapanku berbentuk kotak walau tak sempurna dengan kubah belahan bola raksasa persis ditengahnya.Mesjid ini menjadi kebanggan dan salah satu landmark kota. Memang masjid ini baru dirombak total, dan selesai dalam kurun waktu yang lumayan lama. Halaman parkir yang luas dikelilingi pagar beton yang kokoh dan jajaran pohon kurma. Gerbang utama ada tiga buah, terletak masing-masing disamping kanan dan kiri dan satu lagi persis simetris di depan mesjid. Kedua gerbang samping tempat keluar masuk kendaraan terletak sejajar tinggi panjang dan melengkung membentuk setengah lingkaran di bagian atas. Gerbang depan juga berbentuk melengkung bak tiga buah pelangi yang berdempet. Cahaya cerah matahari yang baru meninggi bertemu dengan kilau warna emas kubah seolah aku berdiri diantara silau saudara kembar yang sedang bersolek. Empat menara berwarna hijau tua walau tak terlalu tinggi ada di tiap penjuru menempel diatas bangunan utama.Tangga-tangga menyilang berlawanan arah disamping kanan dan kiri membagi bangunan menjadi dua bagian, berbelok tepat ditengah lantai pertama dan lantai kedua kemudian bertemu menyatu di halaman ruang utama mesjid. Itulah salah satu keunikan mesjid agung ini. Dari halaman depan lantai dua ini kita bisa menikmati sudut kecil mozaik keindahan kota kecil ini dengan sempurna.Jejeran toko-toko, rumah penduduk, jalan yang membentang, bukit-bukit kecil yang masih rindang tampak elok dan mempesona.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: