Oleh: yellowcity | Juli 2, 2008

Prof. DR. H. Mohamad Surya

Prof. DR. H. Mohamad Surya, lahir di Citangtu, Kuningan pada tanggal 8 September 1941. Beliau kini adalah salah satu Anggota DPD 2004-2009 asal Jawa Barat. Kiprahnya di Senayan sebagai seorang senator tak lepas dari backgroundnya sebagai seorang pendidik sehingga mendapat banyak dukungan. Kalangan pendidik di Indonesia tentunya lebih mengenal beliau sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Setamat dari Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar) 1954 di desa kelahirannya, Surya sudah punya pilihan yang mantap: menjadi guru. Ini, boleh jadi, karena melihat ayahnya, S. Sastrasantana yang kala itu menjadi guru dan sosok disegani di Kuningan.

Menjadi guru sejak 1958, Surya sudah mengajar di hampir semua jenjang pendidikan (kecuali guru TK dan guru sekolah luar biasa). Sebagai dosen di Sespimpol, SESKOAU, dan SESKOAD (1985-1999), tak terbilang sudah orang yang pernah diajarinya kini berpangkat bintang di pundak. Dia menyebut Kapolri Jenderal Pol Dai’ Bahtiar, salah satu di antaranya.

Setamat dari SR, Surya melanjutkan pendidikan di SGB (sekolah guru B) di Jatiwangi, Majalengka dan pindah ke SPG II di Kuningan, setahun berselang. Cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan ke SGA sempat kandas karena ketika lulus ujian kelas III SGB dia hanya memperoleh peringat kelima. Tapi itu tidak membuatnya patah arang. Dia meneruskan hingga kelas IV SGB dan tamat pada 1958. Di tahun itulah dia mulai menjadi guru, sembari mengikuti Kursus Guru A (KGA) untuk memperoleh ijazah SGA.

Berniat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Surya mencoba pindah mengajar ke Bandung. Tapi permintaan kepindahan tak terpenuhi. Dia hanya memperoleh surat diberhentikan dengan hormat sebagai pegawai negeri sipil. Toh, itu tidak membuatnya melangkah surut. Dengan cara ‘ngamen’ untuk memperoleh penghasilan: mengajar, memberi les, dan asisten dosen, Surya meraih sarjana muda pendidikan IKIP Bandung pada 1965.

Setahun berselang, dia kembali diangkat menjadi pegawai negeri sipil dalam kapasitas sebagai asisten dosen sambil kuliah di tingkat sarjana jurusan Bimbingan Penyuluhan IKIP Bandung. Di perguruan tinggi yang kini bernama Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini pula dia meraih sarjana (1975), doktor (1979), dan menjadi guru besar sejak 1996.

Lahir sebagai anak pertama dari sembilan bersaudara, Surya tidak memungkiri kiprahnya dalam organisasi banyak diwarnai oleh pengaruh lingkungan dan keteladanan ayahnya. Masih berusia belasan tahun, Surya bersama teman sebayanya membangun koperasi anak-anak di desa Citangtu sebagai bagian dari gerakan koperasi yang dipelopori ayahnya saat itu.
Kegiatan berorganisasi itu diteruskan saat menjadi mahasiswa. Dia pernah menjadi pengurus himpunan mahasiswa jurusan, senat mahasiswa, dan anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Surya menyatakan ikut berperan serta dalam perjuangan mahasiswa dalam gerakan Angkatan 66.

Keterlibatannya dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) diawali sejak menjadi pendidik, sejak 1958-2004. Semasa mahasiswa dia aktif sebagai Anggota HMI (1963-1968). Isterinya Dra Hj Siti Suminah Surya M.Pd juga seorang pendidik. Mereka dikaruniai lima orang anak.

Pada Kongres XIX PGRI di Semarang, Jawa Tengah,Mohamad Surya kembali terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) periode 2003-2008. Sehingga beliau telah menjadi ketua selama dua periode yaitu periode 1998-2003 dan 2003-2008.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: