Oleh: yellowcity | Juli 25, 2008

Mashud Wisnusaputra

Mashud Wisnusaputra merupakan putra kebanggan Kuningan kelahiran Windusengkahan. Dikenal sebagai pengusaha yang sukses dan mempunyai dedikasi yang tinggi untuk memajukan tanah kelahirannya. Sejak sekolah telah memperlihatkan potensi yang menonjol, hal ini bisa dilihat dari prestasi akademisnya di Sekolah Kedokteran Hewan Bogor, selama 12 kwartal berturut-turut beliau selalu menjadi yang terbaik di kelasnya.

Selain dikenal sukses sebagai seorang pengusaha (enteurpreneur) beliau juga pernah eksis di dalam pemerintahan. Uniknya, walaupun background pendidikannya adalah pendidikan ilmu kehewanan, namun kariernya di dunia birokrasi diawali di bidang militer. Pendidikan kemiliteran awalnya diterima Pak Mashud saat bersekolah di Sekolah Kedokteran Hewan, yang menetapkan didikan militer yang keras. Karena dinilai cukup berbakat, Pak Mashud dikirim untuk mengikuti sekolah kemiliteran Seinen Korenso di daerah Bidaracina, Jatinegara, Jakarta. Pendidikan militer yang cukup berat berhasil dilaluinya, bahkan Pak Mashud diangkat sebagai komandan militer sekolah tersebut.

Pak Mashud kemudian bergabung Batalyon I Brigade V Divisi Siliwangi, salah satu komandan batalyon I yang bermarkas di Cirebon. Suardi Wikantaatmaja, memintanya untuk bertanggung jawab atas perbekalan anggota batalyon. Pemuda Mashud ternyata mampu menyuplai kebutuhan batalyon, bahkan permintaan yang sulit pun, seperti jas hujan yang hanya bisa dibeli di Jakarta, bisa dipenuhinya. Pada masa itu, mobilitas orang dari kota ke kota masih sulit dilakukan, mengingat Indonesia sedang dalam keadaan perang dan sering dicurigai sebagai mata-mata. Tapi Mashud muda dengan mudahnya bolak-balik Jakarta – Cirebon, ternyata statusnya sebagai mahasiswa membuatnya lolos dari kecurigaan penjajah.

Kiprah Pak Mashud di dunia militer semakin terasah dengan berbagai pengalaman perjuangan yang dialaminya. Setelah terjadi Agresi I, Pak Mashud kebetulan berada di Kuningan untuk melaksanakan praktek kerja lapangan. Pada saat terjadi Agresi I, Kuningan ditinggalkan oleh para polisi, sehingga Belanda yang akan menyerang Kuningan mundur ke Cirebon. Pengosongan kota ini sengaja dilakukan dengan harapan terjadi kekacauan, seperti yang terjadi di daerah Cilimus dan Caracas, dimana warga etnis Cina dibakar oleh massa. Dengan mengerahkan seluruh rekan-rekannya di PETA, Mashud berjaga-jaga di sekitar Pasar Kepuh dan Siliwangi yang merupakan daerah Pecinan saat itu. Mereka meredam keresahan masyarakat yang sudah bersiap-siap menyerang etnis Cina di Kuningan dan dengan kepiawaiannya berkomunikasi kerusuhan itu urung terjadi di Kuningan.

Pengalaman dan pendidikan militer, mengantarkannya menjadi intelligence Indonesia. Pendidikan intelligence, diperolehnya setelah mengikuti Basic Military Training untuk infantri di pusat pendidikan militer Fort Benning (Georgia) dan dilanjutkan dengan pendidikan militer Fort Belvoir (Virginia).

Pada tahun 1968, karier di birokrat sipil mulai dijalaninya, walaupun tujuan awalnya adalah untuk menyelamatkan Departemen Pertanian yang merupakan depertemen paling kaya dan sumber devisa negara. Saat itu, sektor pertanian dan keuangan di Indonesia sudah hampir dikuasai PKI, Pak Mashud memperoleh tugas berat untuk membersihkan departemen dari kekuasaan PKI. Pada tahun 1970, keamanan di Indonesia sudah lebih terjamin dan Depatemen Pertanian telah dibersihkan dari unsur PKI. Sekali lagi Pak Mashud berhasil membuktikan keahliannya sebagai security agent. Pak Mashud menolak usulan tersebut karena akan kembali mengkerdilkan Departemen Pertanian yang sudah mulai solid. Akhirnya Pak Mashud mengeluarkan gagasan konsep bimas dan inmas, yang bertujuan untuk meningkatkan produksi beras Indonesia. Ternyata pola itu disetujui pemerintah dan akhirnya membuahkan hasil yang manis.

Setelah 14 tahun berjuang, pada tahun 1984 Indonesia dinyatakan sebagai negara surplus beras dan bahkan sampai mendapatkan Penghargaan FAO – PBB yang diterima oleh Presiden Soeharto. Tahun 1973, pada usia 50 tahun, Pak Mashud memutuskan untuk berhenti sebagai pejabat birokrat dan memutuskan untuk menjadi pengusaha. Dia harus menampik tawaran sebagai duta besar dan duta di FAO Roma, Italia. Pak Mashud berpikir bahwa hidup harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Akhirnya, tahun itu Pak Mashud mendirikan PT Yunawati yang memproduksi dan mendistribusikan obat-obat pertanian dan pupuk. Nama Yunawati diambil dari gabungan nama ibunya, Ayunah dan salah seorang anaknya Ernawati.

Tidak heran jika Pak Mashud dikukuhkan sebagai Sesepuh Pembangunan Kuningan. Sumbangsih Pak Mashud dalam pembangunan Kuningan juga tidak bisa disepelekan. Belum lama ini, Pak Mashud menghibahkan 171,3 hektar tanahnya yang berlokasi di desa Padabeunghar untuk kepentingan Kebun Raya Kuningan. Sebelumnya Pak Mashud juga telah membangun Gedung Serbaguna di Komplek Kodim Kuningan, Mesjid Al Mashud, aula dan ruang kuliah di STAI Al Ihya Cigugur. Dan yang paling monumental adalah stadion Mashud Wisnusaputra yang menjadi kebanggaan warga Kuningan. Apalagi pada tahun ini Pemkab Kuningan telah melengkapi prasarana stadion tersebut sehingga lebih representatif. Penambahan fasilitas itu berupa tribun penonton, gerbang masuk, lampu penerang stadion, fasilitas parkir, kantin, ruang ganti, serta fasilitas lainnya.

Kepeduliannya dalam pembangunan juga menjadi salah satu dasar penilaian Pak Mashud untuk dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa. Selain itu, pertimbangan lainnya adalah karena Pak Mashud termasuk konseptor keberhasilan Indonesia dalam berswasembada pangan. Pak Mashud pun dianggap mampu membangun dan menyatukan Departemen Pertanian hingga mampu mewujudkan aspek security and welfare di bidang pertanian. Dharma bakti Pak Mashud di bidang sosial kemasyarakatan, seperti menjadi dewan penyantun di beberapa perguruan tinggi di Jawa Barat, pembina dan pemelihara kebudayaan Asmat dan budaya Sunda. Kesemuanya itu menjadi satu paket utuh yang membuat Pak Mashud dinilai layak mendapat gelar doktor kehormatan.

Tak hanya sukses dalam karier, Pak Mashud bersama istri tercinta, Ibu Nini Sjahnidar Sikar, berhasil membina keluarga bahagia dan mengantarkan kedua anaknya menjadi mandiri. Kini masing-masing anaknya sedang merintis perusahaan sendiri. Pada tahun ini Pak Mashud dan Ibu Nini Sikar akan merayakan Ulang Tahun Perkawinan Emas mereka. Walaupun terdapat perbedaan usia sampai 11 tahun, keduanya bisa saling mengisi, mengayuh biduk rumah tangga selama lebih dari 50 tahun.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: