Oleh: yellowcity | September 17, 2008

Masa Kerajaan Kuningan

Di samping artefak pra-sejarah di Kabupaten Kuningan ditemukan pula benda-benda budaya yang berasal dari zaman awal sejarah yang bercirikan pengaruh budaya Hindu. Benda-benda budaya yang dimaksud adalah lingga, yoni, patung, candi, cincin mas, anting-anting, mata uang dan jembangan Cina yang ditemukan di bukit Sangiang (desa Sagarahyang, kecamatan Nusaherang) desa Cimara kecamatan Cibingbin, dan kecamatan Subang. Benda-benda budaya tersebut merupakan peniggalan masyarakat beragama Hindu. Sekarang benda-benda dari zaman pra-sejarah dan zaman sejarah tersebut diatas sebagian disimpan di museum Taman Purbakala Cipari (Cigugur), sebagian menjadi koleksi Museum Nasional di Jakarta, dan sebagian lagi tetap berada dilokasi penemuannya.

Masa awal sejarah Kuningan diperkuat dan dilengkapi oleh keterangan dari sumber tertulis berupa naskah Sunda Kuna, yaitu tulisan tangan pada daun lontar. Naskah dimaksud adalah Carita Parahyangan, Fragmen Carita Parahyangan dan naskah-naskah Pangeran Wangsakerta. Dua naskah pertama disusun pada akhir abad ke-16 dengan menggunakan aksara dan bahasa Sunda kuna. Selain itu tradisi lisan setempat (legenda) pun menyisakan keterangan mengenai hal yang sama.

Setelah kerajaan Tarumanegara turun dari panggung sejarah pada akhir abad ke-7 Masehi, di tanah Sunda muncul beberapa kerajaan kecil antara lain Sunda, Kendan, Galuh, Galungung, Kuningan dan Indraparahasta. Wilayah kerajaan Sunda terletak di bagian barat Tanah Sunda dengan ibukota di Pakuan Pajajaran (sekitar kota Bogor sekarang). Kendan terletak sekitar Nagreg, bagian timur Kabupaten Bandung. Wilayah Galuh berada di timur tanah Sunda dengan pusatny di Bojonggaluh (sekarang termasuk ke wilayah Kabupaten Ciamis). Galunggung terletak di sekitar lereng Gunung Galungung, Tasikmalaya sekarang. Indraparahasta berada di pedalaman Cirebon di bagian timur laut kaki Gunung Ciremai. Kuningan berada didaerah Kabupaten Kuningan sekarang, terletak antara Galuh dan Indraparahasta. Dalam perkembangannya Sunda dan Galuh dapat tampil sebagai kerajaan besar dengan Sungai Citarum yang menjadi batas antara kedua kerajaan tersebut. Walaupun demikian kerajaan kecil lainnya masih tetap hidup, meski kekuasaan dan perananya lebih kecil.

Untuk pertama kalinya diketahui kerajaan Kuningan diperintah oleh seorang raja bernama Sang Pandawa atau Sang Wiragati. Raja ini memerintah sezaman dengan masa pemerintahan Sang Wretikandayun (612-702 M), pendiri kerajaan Galuh. Sang Pandawa mempunyai seorang puteri bernama Sangkari. Pada tahun 671 M puteri ini menikah dengan Demunawan, putera Danghiyang Guru Sempakwaja, seorang resi guru di Galunggung. Resiguru adalah sebutan bagi raja yang dalam pengetahuan dan kehidupannya cenderung bersifat keagamaan. Wilayahnya pun tergolong sebagai sebuah kabuyutan atau mandala, yaitu daerah khusus tempat kegiatan keagamaan Hindu, termasuk pendidikan keagamaan Hindu. Danghyang Guru Sempakwaja adalah putera tertua Sang Wretikandayun, raja pertama Galuh. Demunawan inilah yang disbutkan dalam tradisi lisan setempat di Kuningan memiliki ajian Dangiang Kuning dan menganut agama Sanghiyang. Kiranya yang dimaksud dengan agama Sanghiyang ini adalah hasil sinkritisme antara kepercayaan terhadap arwah nenek moyang dengan agama Hindu. Hal ini dapat dipahami karena dia putera seorang Resiguru.

Walaupun Kuningan merupakan kerajaan kecil, namun kedudukannya cukup kuat dan kekuatan militernya cukup tangguh, hal ini terbukti dengan kekalahan yang diderita oleh pasukan Sanjaya (raja Galuh) ketika menyerang Kuningan. Kedatangan Sanjaya beserta pasukannya ke Kuningan atas permintaan Danhyang Guru Sempakwaja, besan Sang Pandawa, dengan maksud untuk memberi pelajaran terhadap Sanjaya yang bersikap pongah dan merasa diri paling kuat. Sanjaya adalah cicit Sang Wretikandayun, melalui puteranya Sang Mandiminyak. Sang MAndiminyak memerintah di Galuh tahun 703-710 M. Ia digantikan oleh puteranya Sang Senna (710-717 M). Sang Senna memerintah Sunda dan Galuh (723-732 M) serta Kalingga (sejak 732 M) di Jawa Tengah.

Karena terjadi perebutan kekuasaan di lingkungan keturunan Sang Wretikandayun, maka Sanghyang Guru Sempakwaja sebagai orang tertua dan disegani, mengambil langkah-langkah dan kebijakan untuk mendamaikan pihak-pihak yang berkonflik. Terhadap kerajaan Kuningan kebijakan tersebut adalah mengangkat Sang Pandawa menjadi Guru Haji (resiguru) di Layuwatang sedangkan kedudukannya di Kuningan di gantikan Demunawan dengan gelar Rahiyangtang Kuku pada tahun 723. Wilayah kerajaannya ditambah dengan Galunggng. Guruhaji adalah jabatan kepala daerah yang bersifat kehormatan dan keagamaan. Tentu Layuwatang masih berlokasi di wilayah kerajaan Kuningan dengan status mandala atau kabuyutan, walaupun lokasinya belum dapat ditentukan.

Pada masa pemerintahan Rahyangtang Kuku diberitakan bahwa ibukota kerajaan Kuningan ialah Saunggalah. Lokasi Saunggalah diperkiakan berada di sekitar Kampung Salia sekarang termasuk desa Ciherang kecamatan Nusaherang. Dengan ditambah sebagian wilayah Galungung maka keseluruhan wilayah Kuningan menjadi lebih luas menjadi 13 wilayah, meliputi Layuwatang, Kajoran, Kalanggara, Pagerwesi, Rahasea, Kahuripan, Sumajajah, Pasugihan, Padurungan, Darongdong, Pagergunung, Muladarma dan Batutihang.

Peran Danghyang Guru Sempakwaja sebagai juru damai dalam kemelut di lingkungan keturunan Wretikandayun diwarisi pula oleh Demunawan. Pada tahun 739 M atas kebijakan Demunawan tercapai kesepakatan diantara mereka untuk hidup rukun dan membagi wilayah kekuasaan secara turun temurun. Dalamhal ini kekuasaan atas kerajaan Sunda dipegang oleh Sang Kamarasa dan keturunannya yang wilayahnya berlokasi di wilayah barat Sungai Citarum sampai ke Ujung Kulon, kekuasaan atas kerajaan Galuh dipegang oleh Sang Suratoma dan keturunannya yang wilayahnya meliputi bagaian selatan sebelah timur Sungai Citarum. Kekuasaan atas kerajaan Kuningan dengan ibukota Saunggalah diegang oleh Demunawan dan keturunannya yang wilayahnya meliputi bagian utara sebelah timur Sungai Citarum, serta kekuasaan atas Kalingga (di Jawa Tengah) di pegang oleh Sanjaya dan keturunannya. Dalam perkembangan selanjutnya antara KErajaan Galuh dan Kerajaan Sunda terjalin hubungan yang erat melalui hubunga pernikahan dan darah sehingga tempat kedudukan rajanya kadang-kadang di Kerajaan Galuh (Bojonggaluh, Kawali) dan kadang-kadang di Kerajaan Sunda (Pakuan, Pakuan Pajajaran), tergantung tingkat kekuasaan dan keinginan rajanya. Lama kelamaan nama kerajaannya disebut kerajaan Sunda saja.

Keberadaan Saunggalah sebagai pusat pemerintahan terungkap lagi, tatkala Rakeyan Dharmasiksa memerintah disini selam 12 tahun (1163-1175 M). Ia adalah putera dari Prabu Dharmakusuma(1157-1175), Raja Sunda yang berkedudukan di Kawali. Rakeyan Dharmasiksa memerintah di Saunggaluh menggantikan mertuanya, karena ia menikah dengan puteri Saunggalah. Selanjutnya ia diangkat menjadi Raja Sunda dengan gelar Prabu Dharmasiksa (1175-1298). Ia menggantikan ayahnya yang wafat tahun 1175 dan dikebumikan di Winduraja (sekarang nama desa dekat kota Kecamatan Kawali, sekitar 20 km sebelah utara kota Ciamis).

Kedudukan Rakean Dharmasiksa sebagai penguasa Saunggalah digantikan oleh seorang puteranya yang bernama Ragasuci atau Rajapatra. Sebagai penguasa Saunggalah, Ragasuci dijuluki Rahiyang Saunggalah (1175-1298 M). Ragasuci memperistri Dara Puspa, puteri Raja Melayu. Dengan demikan Saunggalah menjalin hubungan keluarga dengan penguasa kerajaan Melayu di Sumatera.

Pada tahun 1298 Ragasuci diangkat menjadi Raja Sunda menggantikan ayahnya dengan gelar Prabu Ragasuci (1298-1304 M). Kedudukannya di Saunggalah digantikan oleh putranya Citragandha. Pada masa kekuasaan Ragasuci Kerajaan Kuningan meliputi wilayah yang dibatasi oleh Cipanglebakan, Geger Gadung, Geger Handiwung dan Pasir Taritih di muara Cipager Jampang. Tapal batas ini masih sulit diidentifikasi dimana letaknya sekarang.

Sebagai kerajaan kecil tentu saja struktur pemerintahan Kerajaan Kuningan sederhana, tidak seperti kerajaan besar. Yang jelas ada jabatan Raja, patih, komandan pasukan militer, pemimpin keagamaan dan kepala daerah di tingkat lebih bawah. Memang tampak sekali bahwa bentuk pemerintahan yang digunakan oleh kerajaan besar di Tanah Sunda (Tarumanegara, Galuh,Sunda) adalah federasi. Kerajaan besar berkedudukan sebagai penguasa pusat(pemerintah federal) yang membawahi kerajaan-kerajaan kecil di daerah. Dalam hal ini kerajaan Kuningan pernah berada di bawah pemerintah pusat dari kerajaan-kerajaan: Tarumanegara, Sunda dan Galuh.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: