Oleh: yellowcity | September 18, 2008

Awirarangan

Awirarangan adalah kelurahan di kecamatan Kuningan, kabupaten Kuningan, propinsi Jawa Barat, Indonesia.

1. Etimologi

Masjid Al Muttaqin Awirarangan

Masjid Al Muttaqin Awirarangan

Secara etimologi Awirarangan berasal dari dua kata yaitu awi dalam bahasa Sunda berarti bambu dan kata rarangan berarti larangan atau pantangan. Namun adapula yang menyebutkan bahwa suku kata “Wi” pada kata Awirarangan merupakan  kependekan dari kata “Wiwitan”  berarti yang paling awal, terdahulu, pemula, pertama, jati, asal atau pokok. Hal ini dikarenakan Awirarangan dipercaya merupakan salah satu daerah yang paling awal dihuni oleh masyarakat Sunda sejak jaman kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi. Daerah yang awalnya berupa hutan belantara dibuka dan mulai dihuni oleh para Abdi Dalem Prabu Siliwangi. Mereka adalah Eyang Weri Kusuma, Karanginan, Karang Asem, Singa Merta, Singa Dinata, Buyut Kentuy, Buyut Kenayu, Buyut Empang dan Eyang Tarik Kolot. Hal ini terbukti dari kuburan, kabuyutan atau petilasan mereka yang sebagian berada di wilayah Awirarangan dan dianggap keramat oleh masyarakat sekitar.

Karena daerah ini sudah ada sejak dulu, maka terdapat beberapa pantangan/larangan yang  dianggap tabu/pamali untuk dilakukan seperti bersiul, meniup seruling, makan sambil jongkok, menganggap pertunjukan wayang golek dan lain-lain. Apabila ada masyarakat melanggar larangan tersebut maka dipercaya akan terjadi malapetaka bagi orang tersebut. Karena merupakan daerah yang pertama di huni  dan banyaknya larangan di daerah ini maka daerah ini disebut Awirarangan.

2. Pemerintahan

Awirarangan adalah salah satu kelurahan di kecamatan Kuningan, jadi wilayah ini dikepalai oleh seorang lurah. Sebagai aparatur negara lurah dibantu oleh kepala dusun, aparatur kelurahan dan hansip. Satu dusun atau kampung biasanya merupakan satu RW (Rukun Warga) yang membawahi beberapa RT (Rukun tetangga). RW dipimpin oleh Ketua RW dan RT dipimpin oleh Ketua RT. Kantor kelurahan berlokasi di Jl. Jend. Sudirman ke arah kelurahan Winduhaji.

3. Geografi

Wilayah kelurahan Awirarangan sedikit berkontur dan cenderung rata. Keadaan iklim kelurahan Awirarangan dipengaruhi oleh iklim tropis dan angin muson, dengan temperatur bulanan berkisar antara 18° C – 32° C serta curah hujan berkisar antara 2.000 mm – 2.500 mm per tahun. Pergantian musim terjadi antara bulan November – Mei adalah musim hujan dan antara bulan Juni – Oktober adalah musim kemarau.

Perbatasan

  1. Di sebelah utara berbatasan dengan kelurahan Cijoho.
  2. Di sebelah selatan berbatasan dengan kelurahan Citangtu.
  3. Di sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Kuningan.
  4. Di sebelah timur berbatasan dengan kelurahan Winduhaji.

4. Ekonomi

Orang-orang kelurahan Awirarangan banyak diantaranya yang berprofesi sebagai pedagang di Pasar Baru Kuningan, dari mulai toko kelontong, daging segar , pakaian, furniture sampai makanan. Hanya kurang dari separuhnya yang menjadi petani.

5. Pertanian

Seperti daerah lainnya di Kuningan, kebanyakan pertanian yang berkembang adalah tanaman padi dan palawija.

6. Perkebunan

Tidak banyak hasil perkebunan yang berasal dari kelurahan Awirarangan, karena hampir 80% wilayahnya merupakan pemukiman penduduk. Kelurahan Awirarangan dikenal sebagai daerah pemukiman terpadat di Kuningan. Hasil perkebunan biasanya berasal dari pekarangan rumah seperti:pisang, mangga dan rambutan.

7. Demografi

Penduduk kelurahan Awirarangan berjumlah 9.175 orang, terdiri dari:

  •     4.543 orang laki-laki
  •     4.632 orang perempuan

95% beragama Islam yang lainnya beragama Kristen dan Budha. Dominasi pekerjaan penduduk Kelurahan Awirarangan yaitu sebagai petani, PNS , wiraswasta dan sebagainya.

8. Pendidikan

Sekolah dasar yanga ada di kelurahan Awirarangan antara lain:

  •     SDN Awirarangan I (terletak di Jl. Eyang Weri No. 11)
  •     SDN Awirarangan II (terletak di Jl. Eyang Weri No. 11)
  •     SDN Awirarangan III (terletak di Jl. Jend. Sudirman No. 117)
  •     SDN Awirarangan IV (terletak di Jl. Eyang Weri )

9. Kesenian

Jenis Kesenian yang khas dan berkembang di kelurahan Awirarangan yaitu :

  •     pantun buhun (45% Penduduk Awirarangan masih menguasai)
  •     Pencak Silat Cimande (80% penduduknya terutama pemuda & pemudinya menguasai ilmu seni bela diri tersebut)

10. Adat Istiadat

Dalam perkembangannya Awirarangan termasuk daerah perkotaan sehingga adat yang dimiliki oleh daerah Awirarangannya sendiri sudah mulai terkikis dengan perkembangan zaman dan akibat pengaruh globalisasi kependudukan sehingga adat istiadat yang sekarang sudah tercampur. Apalagi ada diantaranya yang sudah hilang dan tidak dikenal lagi oleh generasi-generasi muda sekarang.
Adapun adat istiadat Awirarangan yang sudah hilang diantaranya :

  • Sabumi atau Hajat Sura,  yaitu berdoa bersama di tanah lapang/di tempat terbuka untuk memohon  keselamatan. Sabumi/Hajat Sura ini selalu diadakan setiap bulan Sura atau Muharram. Sekarang adat istiadat ini sudah tidak dikenal oleh generasi-generasi muda namun  hanya orang tua terdahulu yang masih melakukan adat istiadat ini.
  • Ngujuban atau Hajat Kliwon merupakan permohonan doa oleh pribadi seseorang/keluarga tertentu yang dilakukan setiap malam jumat kliwon. Selain doa yang dipanjatkan ada juga sesajen yang disediakan untuk dinikmati oleh keluarganya sendiri setelah acara ngujuban itu selesai. Sekarang adat istiadat ini sudah tidak dikenal oleh generasi-generasi muda namun  hanya orang tua terdahulu yang masih melakukan adat istiadat ini dan orang-orang yang masih memegang kepercayaan tersebut.
  • Muput atau Nebus Weteng yaitu pengasapan bagi wanita yang baru melahirkan.
  • Busaran yaitu upacara meratakan gigi dengan diiringi bagi anak yang menjelang akil baligh.
  • Memeongan merupakan adat istiadat yang dilakukan apabila ada seorang adik yang melangkahi kakanya untuk menikah duluan di dalam satu keluarga.
  • Bobotan yaitu upacara adat yang dilakukan kepada bayi yang lahir di bulan Safar. Proses bobotan sama seperti proses pertimbangan berat badan bayi tetapi bobotan ini penimbangan bayi beserta harta benda. Semakin berat badan bayi semakin banyak pula harta benda yang harus dikeluarkan. Biasanya hasil dari bobotan tersebut disedekahkan kepada fakir miskin dengan tujuan menghilangkan bala bagi si bayi yang baru lahir.

Adapun adat istiadat Awirarangan yang masih ada sampai sekarang diantaranya :

  • Babarit
  • Nyungsung merupakan persembahan sesajen ke tempat keramat oleh warga yang akan  melaksanakan hajat.
  • Rendengan Pengantin merupakan prosesi adat pengantin
  • Ngabarangsang yaitu membakar cabe dan garam bagi mereka yang akan melaksanakan hajat. 

11. Akses transportasi

Kelurahan Awirarangan terletak dekat dengan Pasar baru sehingga seluruh angkot yang ke Pasar baru melewati jalan kelurahan Awirarangan. Ada beberapa angkutan umum yang melewati jalan raya kelurahan Awirarangan yaitu:

  •     angkot 01 jurusan Pasar baru-Kadugede
  •     angkot 03 jurusan Pasar baru-Cirendang
  •     angkot 06 jurusan Pasar baru-Kertawangunan
  •     angkot 07 jurusan Pasar baru-Lengkong

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: